Titi adalah

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
istri, ibu dari 5 anak, full time worker, menghibur diri dengan berkreasi dan berpuisi

Rabu, 12 Februari 2014

Aini, Kita Bertemu Lagi

"Ti, kantormu di mana ? Aku lagi di Bandung nih, ketemuan yuk."

Itulah pesanmu di inbox face book.
Tidak menyangka ya En, ternyata jejaring sosial berhasil mempertemukan kita setelah 20 tahun tidak bertemu.
Semua teman seangkatan kita, bahkan kakak angkatan dan adik angkatan, pasti mengenalmu. Karena kamu cantik dan ramah.
Terima kasih telah bersedia menjadi temanku, menjadi sahabatku.
Hehe, bahkan menjadi sahabat penaku.
Lucu ya kita, dua sahabat yang jarang bicara di sekolah, tapi saling berkirim surat dan berbalasan.
Ya, kelas kita memang berjauhan. Kau di kelas Tata Usaha, dan aku di kelas Akuntansi. Kita bertemu di kantin untuk bertukar surat, dalam selipan buku bacaan atau novel percintaan.

"Aku sudah di Gramedia ini, kantormu sebelah mana ?"

Aku bergegas keluar kantor, dan mencarimu di parkiran toko buku tersebut.
Aku harus bertanya, kau pakai baju warna apa ?
Ah ternyata kau tak jauh berbeda, hanya rambutmu yang dulu sepunggung sekarang kau potong sepundak. Wajahmu tetap cantik, makin matang, dan kau makin tenang. Sungguh aku belajar banyak darimu.
Ujian kehidupan silih berganti menghampirimu.
Suami yang mendahuluimu menghadap Ilahi, sementara kau masih sendiri tanpa buah hati. Tapi kau tak pernah menampakkan status status galau di akun jejaring sosialmu. Aku salut.

"Hai Titi...."
Serumu. Ah... cair sudah jarak yang telah memisahkan kita. Mengalir selaksa cerita yang tertunda. Dan kau kini telah menemukan tambatan jiwa. Doaku semoga kau bahagia, bersamanya, selamanya. Amiiin.

"Ah.. dua jam tidak cukup ya Ti, semoga kali lain bertemu lagi ya.."

Senin, 10 Februari 2014

Yth. Pak Haris, Guru Agamaku

Assalamu'alaikum, Pak !
Bagaimana kabar Bapak saat ini?
Tentunya Bapak sudah lama pensiun dari mengajar, tapi saya yakin Bapak tidak pernah pensiun dari menebar hikmah dan kebajikan.
Sosok Bapak sangat menginspirasi kami, para anak didikmu.
Kami mengenal Bapak sebagai guru yang tidak pernah marah. Okelah, mungkin ini berlebihan. Akan lebih tepat jika saya mengatakan Bapak adalah salah satu guru yang jarang marah.
Kalaupun marah, bapak hanya tersenyum lebar dan berkata, silakan saja kalau tidak malu, berbuatlah sesukamu. Atau Bapak cukup mengatakan ada dua malaikat -Rakib dan Atid- yang siap mencatat amal-amalmu. Kamipun tersadar, bahwa kelakuan kami saat itu, tidak berkenan di matamu.

Pak, kami juga mengenal Bapak sebagai guru yang disiplin. Tidak pernah datang lebih cepat atau keluar kelas tidak tepat waktu.
Kami masih ingat, saat ibu guru bahasa Inggris menerjang jadwal pelajaran Bapak, dengan santai Bapak masuk kelas dan mengucapkan salam seperti biasa. Kami terkejut, pun ibu guru. Kemudian Bapak seolah-olah terkejut dan berkata : "Oh, belum selesai ya.. belajarnya". Wah, itu adalah tindakan yang sangat saya kagumi.

Ada satu hal lagi yang sangat berkesan buat saya. Bapak selalu meminta kami menilai ulangan kami sendiri. Bapak bacakan soal, kemudian Bapak beri waktu kami menjawab. Setelah waktu menjawab habis, Bapak akan membacakan jawaban. Dan kami diminta mencoret jawaban kami yang salah, atau men-cekhlist bila jawaban kami benar. Dan Bapak selalu percaya.! Ketika Bapak menangkap basah anak-anak yang mencontek, saat itu Bapak tidak marah. Bapak hanya mengingatkan, bahwa nilai ulangan hasil mencontek itu haram hukumnya. Bila kita lulus dengan nilai hasil contekan berarti ada unsur haram dalam ijazah kita. Dan bila kita cari pekerjaan dengan ijazah tersebut, niscaya seumur-umur penghasilan kami akan mengandung unsur haram. Astaghfirullah.
Nggak pakai menunggu dan berfikir lama, kamipun bertobat dari mencontek. -minimal di pelajaran Bapak-.
Kami bandel ya, Pak?
Tapi kami berterima kasih, Bapak sungguh menjadi warna tersendiri buat kami. Kamipun mencintai dan menghormati Bapak dengan cara kami.
Dimanapun Bapak kini berada, semoga taufik dan keberkahan selalu melingkupi.

Salam hormat dan cinta, muridmu
-titi-

Sabtu, 08 Februari 2014

Kepada Arie Susanti, Sahabat Pena Pertamaku

Hai, apa kabar Arie ? Assalamu'alaikum
Mari kita menghitung waktu, berapa tahun tidak bertemu.
1990-2014
Masya Allah, seperempat abad !
Berapa banyak peristiwa yang kita tidak saling tahu ?
Betapa jarak kini terbentang di antara kita.
Apakah itu membuatku lupa ? Tidak !
Tidak akan pernah lupa, karena kau begitu spesial.

Arie, aku masih ingat cara kita berkenalan. Lewat majalah. Dan jadilah kita sahabat pena. Kau berkirim surat padaku, dan aku membalas suratmu. Oh, dan betapa senangnya ketika ada sebuah amplop biru, bertengger di jendela ruang guru, dan bertuliskan namaku.
Itu pasti dari kamu. Karena kamu satu-satunya sahabat penaku.
Apakah kau juga masih ingat ? Kita kita bandel bandel mengakali pak pos ?
Entah siapa yang punya ide duluan, perangko yang kita pergunakan, dilumuri lem dulu bagian depannya. Baru kita lem ke amplop. Nanti setelah surat kita sampai ke alamat, lepas perangko dengan hati-hati, dan usapkan air dinpermukaannya. Voila, stempel pos pun luntur bersama lem yang tercuci.
Dan kita tertawa jahil tanpa merasa telah berbuat kecurangan.

Arie, dan tahukah engkau, betapa berbunga-bunganya hatiku ketika dalam suratmu kau katakan mau pindah sekolah. Dan ternyata sekolah barumu adalah sekolahku. Sekolah kita !
Dan kita bukan lagi sahabat pena. Kita telah berdekatan dan akan lebih semangat menjalin persahabatan.
Engkaupun segera dapat menyesuaikan diri dengan genk-ku. Arini, Iin, Siti, Titi, dan sekarang tambah Arie Susanti.
Aku masih menyimpan lho... foto kita saat berhujan-hujanan sepulang sekolah. Baju kita basah, rambut kita basah. Jangan ditanya kaos kaki dan sepatu. Eh tapi aku lupa, bagaimana dengan buku-buku di tas kita ya ?
Sebenernya aku bisa saja pasang foto itu di sini, tapi aku malu karena aku telah menutup auratku kini.

Nah Arie, kalau kau kebetulan membaca suratku ini, tolong ya, hubungi aku lewat blogku atau akun twitterku.
Aku ingin memotong jarak dan kembali merajut jalinan persahabatan kita.

Love always :
---titi---

Kamis, 06 Februari 2014

Untuk Pemilik Mata Teduh

Hai,
apa kabarmu kini ? lama nian kita lost contact ya...
aku tak tahu lagi di mana harus mencarimu
pernah kita melalui hari - hari  yang dipenuhi dengan obrolan, lewat gtalk atau ym
tapi sekarang sepertinya kamu enggak pernah OL
apakah di duniamu tidak ada internet ?

Hai,
pemilik mata teduh ?
apakah tatapmu masih seperti yang dulu ?
senyum dan kata lembutmu menghalau semua rindu
seperti hujan sehari yang membuat orang lupa kemarau

Hai kamu,
yang pernah bilang bahwa rasa tak perlu diumbar dengan kata-kata
karena itu akan mengurangi makna
Ah.. aku tak setuju itu. Karena aku termasuk yang meyakini bahwa rasa itu harus diungkapkan
Tapi ternyata kau dan aku tetap menjalani hari - hari dalam kebersamaan
aku tak pernah 'tega' menyampaikan isi hatiku
dan akupun tak pernah mendengar kau mengungkapkan rasamu
baiklah... kita nikmati saja kesempatan ini.

Rabu, 05 Februari 2014

Buat Kamu

surat kamu, iyak, surat ini buat kamu
aku tak mau menyebut namamu, nanti orang tahu siapa kamu
lha, mestinya jadikan saja surat ini surat kaleng
Oh, tidak, aku ingin dunia tahu, bahwa aku mencintaimu
Maka, ijinkan aku mengatakan pada dunia
"aku mencintaimu"

cukup engkau tahu
cukup dunia tahu
dan itu cukup bagiku

Selasa, 04 Februari 2014

Surat Cinta Untuk Ratu @dapurhangus

Hai Ika
lama ya .. kita enggak ketemu .. kangen lho Ka..
enggak kerasa, udah empat bulanan
Inget nggak, Ka, waktu terakhir kita ketemu, di janjian blogger Bandung meet blogger Surabaya, tinggal kita berdua, ngobrol sampai puas. Sebelumnya pun, kita cuma janjian berdua di Baltos, enggak makan, cuma cerita cerita. kayaknya enggak ada habisnya ya.. kita ngobrol berdua.

Ika, jauh di lubuk hatiku aku kagum padamu
Dikau yang masih belia, sudah banyak pengalaman, berbagai profesi sudah kau selami. Menjadi karyawan pernah, mengelola bisnis laundry, mengelola bisnis fotocopy, dan sekarang bisnis online.
Dan sungguh tidak disangka, dengan kecuekanmu, ternyata dikau dapat meraih omset seperti sekarang. Hehe.. itungannya duit, iyap, karena duitlah yang bisa dihitung.
Temen juga tentu banyak. Dan memang, gaya jualanmu itu khas banget. Pembeli serasa sebagai teman. Bahkan mungkin menjadi teman.
Walaupun sering kubaca 'omelan'mu, tentang pembeli pembeli yang ogah membaca S & K, hehe.. tetep aja ya..
Dan satu hal yang sebenarnya lebih aku kagumi adalah, kok ya nemu ajaaa .. gitu .. dagangan yang "aneh aneh" seperti yang tersedia di dapurhangus.
Dan, kekuatanmu untuk menanggung resiko, resiko belanja, resiko packing, resiko mengirim dsb. Ya eyalah.. ketawa saat transferan masuk itu yang sering kau bilang bikin lupa semua kerepotan.

Ika, apa kabarmu sekarang ?
Aku menunggu kabar darimu.

Penuh cinta
_ titi_

Senin, 03 Februari 2014

Buat Ika Sayang

Assalamu'alaikum wr wb

Ika, ini lho aku buat surat untukmu, sesuai permintaanmu. :D hehehe..
Lucu ya, surat kok diminta. eh enggak minta ding ya.. orang aku yang nawarin. Tapi enggak papalah, kan ini jadi alasan buatku untuk mengungkapkan rasa (jiaaah....)

Ka, kita memang belum pernah bertemu secara langsung, kita pun baru mengenal melalui postingan-postingan  blog kita,  terus berlanjut dengan bertukar nomor telepon dan WA, tapi entah kenapa ya, rasa-rasanya aku seperti sudah lama mengenalmu dan menyaayangimu. Ya.. rasa  ini begitu saja muncul di hatiku.
Eit, jangan diketawain ya... ini aku sudah mengatakan rasaku. Aku takut suatu saat aku menyesal karena tidak kunjung mengatakannya.
Orang bijak bilang, hati akan menemui hati yang sama. Tidak akan dapat bergabung dua hati yang beda frekuensi. Nah aku boleh GR dong ya.. jangan jangan hati kita memang berada di dalam frekuensi yang sama.

Ika, sebenernya aku suka canggung kalau berteman dengan pejabat, hehe. kayaknya gimana.. gitu. Ada jarak. Tapi untunglah ya.. awal aku mengenalmu bukan sebagai pejabat, tapi sebagai seorang blogger, semoga pertemanan kita di dunia maya, berlanjut ke dunia nyata dan berlanjut lagi menjadi persaudaraan ya...
Aku berharap, suatu saat kita dipertemukan-Nya, entah di mana. Entah di Yogya  seperti yang sering aku dan Sondang khayalkan. Kami pergi dengan memesan tiket promo yang murah, dan kopdaran cukup di bandara, lalu pulang lagi ke Bandung di hari yang sama.
hahaha .. silakan hoek hoek setelah tahu betapa ngayalnya aku dan Sondang.
Ah mungkin kita juga bakal bertemu di Bandung seperti katamu tahun ini Dzaki mau darmawisata,
atau entah di kota mana deh, kan kita tidak tahu rencana Allah seperti apa.

Nah Ika, maaf ya.. suratku pendek saja. Aku percaya, cukuplah kita saling membayangkan wajah, dalam doa-doa kita, dan kita mohon kepada-Nya, agar pertemanan ini abadi bukan hanya di dunia, tapi juga di sisi-Nya kelak. Dan berharap, agar kebaikan semakin banyak melingkupi kita. Hingga keberkahan usia kita pun dapat dirasakan oleh orang-orang sekeliling kita. Amiin.
Dan terakhir, ijinkan aku mengatakan lebih jelas lagi, Ika, aku mencintaimu karena Allah.

Wassalam
Lots of Love
-Titi Esti-

Minggu, 02 Februari 2014

Kepada Bapak dan Ibu

Assalamu'alaikum Bapak, assalamu'alaikum Ibu,

Apa kabar, Pak, Bu ?
Terbentang jarak antara kita, oleh ruang dan waktu... meski rinduku kini tak pernah mendatangkan pertemuan, dan hanya berujung di hamparan sujudan, anakmu ini tak akan pernah bosan.
Bagiku, Bapak dan Ibu selalu ada. Selalu hidup mendampingi kami, anak anakmu.
Bahkan setiap aku pulang ke rumah kita dulu, dan tidak menemui Bapak tengah di ruang tamu, atau tidak melihat ibu di daput, kupikir Bapak dan Ibu hanya sedang beristirahat di dalam kamar. Sejenak membaringkan jasad tua dan sudah sakit-sakitan.

Pak, Bu, kalaupun Bapak dan Ibu masih dapat melihat kami, mungkin Bapak dan Ibu juga enggak sepenuhnya bahagia.
Ketika kubilang sama Mas Mbarep, andai Bapak-Ibu masih ada, mungkin akan bangga melihat aku kini sudah mandiri. Eh, Mas Mbarep malah nyeletuk, ya mungkin akan sedih juga, melihat Mas Mbarep belum juga punya tempat tinggal dan kerjaan tetap di usianya yang ke 42. Hhhh..... langsung aku buyar lamunanku. Berhenti berandai-andai.

Pak, Bu, bagaimana keadaanmu di sana ? Semoga Allah lapangkan kediamanmu hingga hari pembalasan. Ingin rasanya, menjadi anak baik seperti yang Bapak dan Ibu ajarkan, menjadi anak salehah yang mendatangkan pahala amal jariyah, ternyata nggak mudah ya...
Semakin terkenang akan segala pengorbanan Bapak dan Ibu ketika sekarang aku mempunyai anak-anak yang menjelang dewasa. Sungguh, mendidik mereka memerlukan segala yang disebut ekstra. Perhatian, kesabaran, tenaga, kepandaian, dan tentu saja keuangan :)
Tak terbayangkan dulu Bapak dan Ibu membimbing kami bertujuh.
Namun demikian, Bapak dan Ibu jangan pernah mengkhawatirkan kami di sini, dengan didikanmu dulu, kami kini tumbuh menjadi orang-orang yang cukup bertanggung jawab. Kami sadar betul, bahwa hidup ini bukan untuk bermain-main. Hidup ini adalah perjuangan untuk menunda kesenangan. Kami mencoba menikmati semua prosesnya.
Harapan kami hanya satu, kelak kita dapat berkumpul kembali di tempat abadi, Bapak dan ibu dapat melihat anak-cucu-menantu dan cicit-cicit , semua berkumpul dan berbahagia karena selalu di jalan-Nya. Insya Allah. amiiiin.

Sekian dulu ya Pak, Bu, lain kali disambung lagi. Semoga Bapak dan ibu sejahtera selalu.

Wassalam,
Dari anakmu yang merindu tanpa bosan-
Meski harus berakhir di hamparan sujudan.

Sabtu, 01 Februari 2014

Surat Kepada Pak Wali

Assalamu'alaikum Pak...
Tentunya Bapak sibuk dan belum tentu sempat membaca surat ini. Ya nggak papa deh, saya maklum kok. Saya hanya mengeluarkan unek-unek dalam hati. Surat ini saya kirimkan, sebagai tanda cinta saya pada Bapak dan kota kita.

Pertama-tama saya sangat bangga dan bahagia, dulu, ya dulu sebelum Bapak menduduki jabatan seperti sekarang ini, saya diam diam termasuk yang menyebarkan stiker Bapak dari gang ke gang. Terus juga menempel poster poster Bapak di tiang listrik. (Enggak di pohon lho...Etapi pas bersih bersihnya saya enggak ikut.)
Saya juga sesekali ngetwit menyatakan dukungan. Saya pun ikut menyebarkan harapan akan kota kita yang lebih baik -insya Allah- bila dipimpin oleh walkot dan wawalkot seperti Bapak dan pasangan.
Alhamdulillah, lewat seratus hari ini, kelihatan banget perubahannya. Andai tanpa di blow up media-pun.
Saya lihat gorong-gorong sudah mulai diperbaiki. Sampah sudah bukan masalah. Trotoar diperindah. Jalur sepeda dipertegas. Taman-taman ditata dengan tema. Jalan-jalan protokol bebas pedagang kaki lima. Oh iya.. sudah muncul beberapa pot besar di pinggir jalan dengan cat hampir seragam, satu dua berlogo perusahaan, ada yang berlogo RT-RW, apakah itu instruksi Bapak juga? Jempol ! Siip dah pokoknya...
Terimakasih untuk itu semua.

Saya mengerti bila Bapak memulai dari yang paling sedikit konfrontasinya.
Saya juga tidak menuntut untuk cepat-cepat berubah, kok. Mengurus orang serumah aja susah, apalagi mengurus orang sekota.
Tapi boleh dooong.... saya titip harapan. Iya... cuma harapan ...
Rasa-rasanya saya pengen lihat status Bapak, atau twit atau IG atau apalah ... suati saat nanti di masa lima tahun jabatan Bapak ini, bahwa untuk mengurus urusan administrasi di kota kita ini free... alias gratis. Atau kalaupun ada biaya tolong dipublikasikan berapa biayanya sesuai perda dan dipasang besar-besar di setiap pos layanan.
Misalnya saya mau ngurus perpanjangan KTP, SOP-nya berapa hari dan berapa duit yang harus ditransfer ke kas daerah (jangan dititipin petugas ya Pak...)
Kemudian saya mau balik nama PBB, berapa duit dan berapa lama saya musti nunggu prosesnya.
Misal saya mau ngurus surat domisili perusahaan dan ijin usaha , berapa biayanya dan berapa lama jangka waktunya.
Misalnya saya mau ngurus ijin mendirikan bangunan, berapa duitnya dan berapa lama ngurusnya.

Dan satu lagi harapan saya sebagai warga kota, pengennya siiih... ada tempat menelpon atau sms gitu deh... untuk memberikan penghargaan atas pelayanan yang baik ataupun pengaduan atas penyimpangan-penyimpangan.
Nomor itu dipublikasikan luas, lewat spanduk-spanduk, koran, dan dipasang di setiap kantor pelayanan. gak cuma sebuah kotak reklame kecil, disangga  tiang tinggi di belakang kantor Bapak. Yah...kalau lewatnya buru-buru, gak kelihatan deh.

Oke deh Pak, segini dulu suratnya ya... tahun depan mungkin saya kirim surat lagi. Insya Allah.
Wassalam.