Titi adalah

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
istri, ibu dari 5 anak, full time worker, menghibur diri dengan berkreasi dan berpuisi
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

Tentang Kita

bila kuingat, senyum manismu
takkan habis waktu melamun

Mas, detik rasanya berjalan lambat di sini. Mungkin sebenarnya dia mau menemaniku. Tapi aku malah jadi malas. (Mendingan juga ditemenin Mas ya..) Lebih baik dia berlari saja, biar waktu segera berlalu. Hari berganti. Malam datang, pagi menggantikan. Terus dan terus. Supaya hitungan waktu ini segera genap. Aku rindu, Mas. Rasanya tak sabar menanti saatnya pertemuan.
Aku ingat terus senyuman Mas, tatapan Mas. Semuanya masih membuatku berdebar debar. Dan aku yakin akan selalu demikian. Meski Mas dah jauh sekalipun, debarnya tetap sama. Apalagi kalau kuingat saat saat kita bersama. Tak pernah ada yang menggandeng tanganku dengan cara menyelusupkan jari jari sepertimu. Belum pernah ada yang merapikan jilbabku seraya menyembunyikan anak anak rambut yang mengintip. Belum pernah ada laki laki yang memelukku seraya mengusap usap punggung. Belum pernah ada yang memintaku memeluk erat saat memboncengku. Hihi.. . dan belum pernah ada laki laki yang menemaniku tidur, selainmu. Pokoknya kangen kangen kangen


Oya Mas, permohonan pindah mengikuti suami sudah aku ajukan segera setelah cutiku habis kemaren. Untungnya berkas berkas Mas lengkap, jadi surat itu bisa segera diproses. Alhamdulillah, kepala kantor menjanjikan akan membantu. Dan benar, berkas surat permohonanku hari ini sudah diteruskan ke kantor pusat. (Kata kepala kantor sih, semoga bisa cepat, soalnya di saat orang orang nggak mau dipindah ke daerah terpencil, aku malah minta pindah ke daerah terpencil.) Mas tolong berdoa ya... biar prosesnya cepat. Normalnya tiga bulan. Tapi tiga bulan itu kan lammmmaaa... Masa' aku harus nunggu tiga bulan lagi baru bisa ketemu Mas, dan berkumpul dengan Mas, lalu kita menjadi keluarga. Plis, bantu doa ya..

Nah, Masku sayang, segini dulu kabar hari ini. Besok aku tulis surat lagi tanpa menunggu balasan darimu.
Peluk cium dari istrimu di sini. Jaga diri baik baik ya... calon ayah !

****

bila kuingat canda tawamu
takkan habis waktu berangan


De, Mas sudah sampai di rumah kita. Meski rumah ini rumah dinas, milik negara, tapi Mas eh kita yah kita, bakal menjadi penghuni pertama. Rumah dinas ini baru selesai dibangun. Ini akan jadi rumah pertama kita. Rumah cinta kita. Nggak papa kan, Mas baru bisa menyediakan rumah dinas untuk tempat berteduh keluarga kita ? Allah kan menjamin rejeki orang yang sudah menikah, Allah akan memampukan kalau mereka belum mampu. Suatu saat, insya Allah kita bakal punya rumah sendiri ya...Amiin.
Rumahnya kita ini kecil, dua kamar, dapur dan kamar mandi di luar, di belakang. Nanti kalau kamu sudah sampai di sini, kita buat pagar tinggi di halaman belakang. Biar kamu bisa berkebun tanpa harus berkerudung. Halaman depannya luas sekali, seluas lapangan bola. Karena memang itu lapangan bola untuk warga komplek. Hehe..  Di sini juga dekat pantai, nanti kita bisa lihat matahari terbit ataupun menikmati senja di pantai kapanpun Ade mau. Makanya cepat ngajuin pindahnya... 

De, Mas pengennya di sini malam terus. Biar Mas tidur dan tak merasakan waktu, sehingga tiga bulan perkiraan proses pindahmu itu segera berakhir. Apalagi kalau sepanjang malam ada Ade yang menemani tidur. Soalnya kalau sudah ketemu siang, malamnya jadi takut mau masuk kamar.  Bukannya takut hantu, tapi takut ingat yang enggak enggak,(eh yang iya iya ding) saat kebersamaan kita kemaren. Di kamar sudah ada barang barangmu. Sudah Mas rapikan. Pakaianmu juga sudah Mas simpan di lemari.  Kalau tahu akibatnya bakal seperti ini, nggak Mas buka dulu deh, property kamu. Bikin kangen. Kangen banget.

Ade sayang, belahan jiwa. Mas selalu berdoa, bahkan sejak detik pertama perpisahan kita. Semoga proses pindahmu cepat, sehingga kita bisa segera berkumpul sebagai sebuah keluarga. Mas akan menjagamu kini dan membahagiakanmu. Lalu nanti kita punya anak anak yang lucu, sehat, cerdas, dan tentu saja, sholeh. Maka lengkaplah surga kita di dunia ini. Amiin.

Cukup segini dulu kabar Mas hari ini. Besok kalau nggak keasyikan ngelamunin kamu, Mas nulis surat lagi.
*sama suami jangan cuma kasih peluk cium dooonggg...* Jaga diri baik baik ya, calon ibu !

*****

Bila kuingat senyum manismu
Takkan habis waktu melamun
Bila kuingat canda tawamu
Takkan habis waktu berangan
Ingin kumiliki hari selamanya
Berdua denganmu selamanya
Bukan hanya angan yang kelamaan
Bila kuingat janji manismu
Kutunggu sampai malam meninggalkanku
Semoga bukan angan yang kelamaan.... 
(Lingua - Bila Kuingat)

Senin, 18 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo

Pasar Klewer, Solo

Untuk mendapatkan serabi solo kalian tidak harus ke Solo.
Karena sekarang sudah banyak yang menjual serabi solo ke luar kota Solo.
Tidak juga harus mendatangiku di depan pasar Klewer ini, di Kedai Serabi Solo "Putri Solo"
Tapi, akan berbeda kalau kau mendapatkannya di tempat asal. Serabi Solo yang dibeli di kota Solo.

Sudah hampir sepuluh tahun aku dan suamiku membuka kedai serabi solo.
Alhamdulillah selalu laris manis. Apalagi di musim liburan seperti sekarang.
Kutatap suamiku yang sedang mengaduk aduk arang agar bara apinya rata.
Setiap gerakan tangannya bagai mengaduk aduk perasaanku yang entahlah, aku tak tahu apa ini namanya.

"Kenapa menatap Aa seperti itu, Neng  ?" Pertanyaaan Aa mengagetkanku.
"Aa makin kasep kalau lagi kerja dan bersimbah peluh, jadi Neng makin suka ngeliatin Aa"
"Ah, Neng merayu. Pasti ada maunya nih..."
"Enggak lah A.... kan emang Neng sayang dan cinta sama Aa"
"Ish, sudah, nih, anterin serabi ke pembeli di meja 10 tuh. Ngeliatin kita dari tadi." Kata Aa sambil menyorongkan sepiring serabi pesanan.

Jangan heran aku memanggil di Aa. Memang Aa berasal dari Bandung. Aku yang asli Solo. Tapi jangan salah, dalam hal mengolah serabi, Aa lebih jago dari aku. Selain  karena dia kuliah di bidang kuliner dia  juga belajar langsung dari Bapak.

Aku duduk diam di sudut kedai. Kebetulan pembeli sudah mulai sepi.
Sehabis mencuci tangannya yang tercoreng arang dan terciprat abu di sana sini, Aa duduk di depanku.
Dia menarik kursi di seberang mejaku.  Dipegangnya tanganku.
"Neng masih memikirkan soal reuni Aa ?"
Aku menunduk sambil membetulkan letak kerudungku.
"Nanti siapa yang membantu Neng di kedai kita selama Aa di Bandung ?" tanyaku berdalih
"Kan ada de Joko yang sudah menyanggupi. Aa yakin bukan karena itu. Neng khawatir Aa bakal CLBK ?"
Aku makin menunduk. Selama ini aku selalu mengikuti saja keputusan Aa. Aku selalu menerima apa pun yang dia katakan atau apapun yang dia lakukan.
Tapi, untuk yang satu ini rasanya agak sedikit berat.
Aku tahu siapa dan bagaimana teman teman kuliah Aa di tempat itu.
Aku juga tahu pergaulan macam apa diantara mereka. Dan aku tak mau, masa lalu kembali menarik Aa.
Aku menarik nafas.  Kutatap mata Aa. Barangkali aku bisa melongok sedikit ke dalam hatinya. Apakah masih hanya diriku seorang dan tak ada lainnya.
"Yakinlah Neng, Aa akan menjaga diri selama di Bandung"
Hatiku memberontak. Menjaga diri bagaimana. Aku tahu Aa yang tidak pernah mau berkonflik. Sekecil apapun.
Misalnya saja,  dia masih susah untuk menjaga diri tidak salaman dengan perempuan. Alasannya? Alasan ringan, menurutku. Malah dia selalu membalikkan pernyataan, "kamu enak, pake kerudung. Bisa menolak salaman." Huh !
Justru itulah, karena Aa nggak pake kerudung, dan teman temannya pasti banyak yang belum tahu Aa sudah berubah, aku nggak rela rasanya nanti tangan Aa ditarik tarik ke panggung diajak berjoged. Dipeluk peluk dan cipika cipiki. Memangnya aku nggak tahu apa ! Pertemanan seperti apa yang dulu dijalani Aa, toh kami berasal dari kampus yang sama. Hanya beda angkatan dan jurusan.
"Bicaralah, Neng. Kalau Neng nggak ridho Aa ikut reuni, Aa nggak akan berangkat"
"Kata - kata Aa seakan akan menimpakan segala resiko reuni padaku." kataku dingin.
"Bukannya begitu... maksud Aa... " kata kata Aa menggantung di udara.

Bagaimanapun aku menenangkan hatiku, tetap saja aku tidak berhasil. Bagaimanapun aku berusaha berpikiran positif, selalu saja hal negatif yang muncul. Terlalu berat. Sangat berat rasanya melepas Aa.

"Terserah Aa aja lah.. Hanya satu permintaan Neng. Tolong deh Aa renungkan, seandainya kali ini angkatan Neng yang ngadain reuni, dan kemudian Neng ikut. Terus Neng diperlakukan teman teman laki laki Neng jaman kuliah dulu seperti yang teman teman perempuan Aa memperlakukan Aa dahulu, Aa bakal ridho nggak, Neng berangkat reuni. Kalau Aa ridho, Neng juga akan berusaha ridho"

Kataku sambil beranjak meninggalkan Aa di meja. Akhirnya kusampaikan juga segala yang mengganjal perasaanku. Berat sekali. Karena selama sepuluh tahun menikah, belum pernah sekalipun aku membantah Aa atau  tidak setuju dengan keputusan Aa.

Esoknya kutunggu de Joko datang dari rumah Bapak dan Ibu. Dia harus menjemputku untuk membawa bahan serabi ke kedai. Karena pagi ini Aa akan berangkat ke Bandung.
Aku duduk mematung di teras kontrakanku.

"Yuk kita berangkat Neng ..." Tiba tiba suamiku muncul dari dalam rumah.
"Aa nggak jadi ke Bandung ?"
"Setelah Aa pikir pikir, kayaknya Aa juga bakal nggak rela melepas Neng ke masa lalu.  Ketemu dengan teman teman laki laki Neng yang belum menjaga batas batas pergaulan. Lagipula Neng, Aa akan ketemu mereka paling cepat kan setahun sekali. Ngapain Aa memberati mereka, dan menjaga perasaan mereka agar tidak kecewa karena Aa nggak datang ? Toh akan banyak orang nantinya. Sedangkan di rumah ini, hanya ada Neng seorang. Nggak akan ada pengganti di hati Neng kalau Aa pergi.  Kita akan ketemu setiap hari. Kalau hari ini Aa melukai perasaan  Neng, Aa pasti malu ketemu Neng besok hari. Dan Aa nggak tahu bagaimana lagi Aa mengobati perasaan Neng."

Aku peluk suamiku erat erat. Ada yang menghangat di sudut - sudut mataku. Tidak, tidak akan kuhapus. Akan kubiarkan Aa tahu. 
"Itu keputusan Aa kan ? bukan keputusan Neng ya.." kataku merajuk
Aa mengangguk dan membalas pelukanku lebih erat.
Kehangatan menjalar di dadaku. Sehangat serabi solo dari kedai kami berdua.




Minggu, 18 Maret 2012

Senja yang Indah

"Sudah sampai, Ma... " Dina membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. Aku turun dari mobil, Dina mencari tempat parkir yang cocok.
Lapangan parkir sudah hampir penuh.  Tampak di kejauhan, para tamu sudah hampir memenuhi tenda. Sebagian bergerombol mengobrol, tertawa, mungkin mengenang masa muda. 
Aku datang ke reuni ini atas ajakan Dina, putri semata wayangku. Bukan, bukan diajak, tepatnya dipaksa. Karena ini reuni akbar. Alumni 1980-2010. Bayangkan. Lintas generasi. Bahkan Dina pun sudah lulus dari sekolah yang sama denganku.
"Ayo Ma, kita ke sana" Dina menggamit lenganku.
Aku menurut saja dituntun. Pikiranku setengah iya setengah tidak. Andai saja bukan karena Tina yang sengaja datang dari Amerika, dan Lia yang sengaja datang dari Balikpapan, mungkin aku tidak akan memaksakan diri ke sini. Ke pantai ini. Untuk reuni..
Entahlah, kenapa panitia memilih pantai Teluk Penyu ini untuk lokasi reuni. Sore hari pula. Mungkin karena sekolah kami dekat dengan pantai, dan lokasi ini menjadi lokasi favorit untuk jalan jalan sore.Menanti senja tenggelam di balik Nusakambangan.
Sesekali bahkan guru olah raga pun sengaja mengadakan lomba lari di sini. Maka aku yakin, hampir semua anak sekolahku punya kenangan di sini.
Dina mengajakku berjalan menyusuri pantai, melewati tenda dan panggung. Di balik panggung, berjejer bungalow sepanjang pantai. Tempatnya agak tersisih. Dulu semasa aku sering melewatkan waktu di sini, belum ada bangunan ini. 
"Asyik ya Ma.. duduk di sini. Coba ada cafe di dekat sini, enak kali  ya minum segelas es kelapa muda" kata Dina.
Aku tergagap. Es kelapa muda, kesukaanku dan kesukaannya. Dia. Entah di mana.
Mataku menatap laut selatan yang demikian luas. Jantungku berdegup tak karuan,hanya karena mengingatnya.
"Mama... jangan melamun saja. Diajak ngobrol kok malah melamun" Aku tersenyum dan menoleh.
"Iya.. enggak lagi deh... Mama seneng aja melihat laut" sahutku berdalih.
"Ok deh Mam, Mama nikmati aja lautnya dulu ya.. aku pesan es kelapa muda dulu" kata Dina.
"Hm "! jawabku sambil kembali menatap laut.

Sebentar kemudian, terdengar langkah mendekat dan dua gelas diletakkan di meja bungalow. Aih, cepat sekali Dina membeli es.
"Cepat amat Din ?"  tanyaku, lagi lagi tanpa menoleh.
"Ini aku, Dini !" Hah ? Aku terkejut. Hanya seorang yang memanggilku Dini dari namaku Nurhandini. Semua teman temanku memanggil Nur. Kecuali dia, dia yang lenyap bagai di telan bumi.
"Dini, aku datang hendak minta maaf" katanya
"Minta maaf atas apa ?" tanyaku datar, mengatasi debar
"Din, aku minta maaf atas semua yang kulakukan kepadamu dan kepada Dina ." katanya lagi
"Kau tak perlu minta maaf padaku. Waktu itu aku melakukannya tanpa terpaksa. Dan kau tak perlu minta maaf pada Dina. Dia tidak mengenalmu." Ujarku, menegarkan diri.
"Dini... bukalah hatimu. Aku menyesali seluruh kesalahanku di masa lalu. Aku pergi saat itu, karena aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan. Aku membiarkanmu menanggung sendiri akibat perbuatan kita, aku membiarkanmu sendiri menyembunyikan kehamilanmu, aku membiarkanmu membesarkan dan mendidik Dina. Aku membiarkanmu ...  Aku minta maaf untuk itu semua." Suara Naga semakin serak.
"Aku pergi, tapi dirimu selalu membayangi. Aku pergi, tapi aku hanya tahu satu tempat kembali. Engkau ! Dini... maafkan aku" Kini pria setengah baya itu tergugu di belakangku. Aku tak sanggup untuk memalingkan muka dan menatapnya. Terlalu dalam. Terlalu pedih. Terlalu cinta. Selalu cinta. 
Dan aku tahu, tanpa dia minta pun aku sudah memberinya maaf sejak 30 tahun lalu di detik dia pergi dan tak dapat dihubungi. Itulah sebabnya aku menjaga Dina. Membesarkan Dina, sepenuh cinta

"Aku sudah bertemu Dina.  ketika sama sama mendaftar reuni. Melihatnya, seperti melihatmu 30 tahun lalu. Hanya bedanya, Dina berbalut jilbab rapi.Tapi aku dapat mengenali. Mata, hidung, senyum bahkan langkah kalian seperti tak ada beda. Kami berkenalan. Dan tahulah aku, bahwa dia adalah anak kita. " 
"Dina anakku, dia tidak pernah mempunyai ayah " kataku tetap bertahan.
Terdengar laki laki itu menarik nafas dalam.
" Aku mengerti Din, dia tak mempunyai ayah. Bahkan dia tak perlu ayah. Tapi, maafkan aku Dini, ijinkan aku menebus kesalahanku, dan menghabiskan sisa umurku bersamamu." bujuknya lagi.Kini suaranya semakin tenang. Agaknya dia sudah semakin siap dengan apapun jawabanku.
"Dari cerita Dina, akupun tahu, bahwa kau tak pernah membuka pintu hatimu untuk orang lain. Kau menutup diri. Dini, ijinkan aku mengetuk hatimu sekali lagi.... Boleh ya Din ?"
Aku terdiam. Kepalaku tertunduk. Sekian waktu berlalu dalam diam. Hanya debur ombak yang semakin besar. Riuh rendah suara acara reuni seperti tak terdengar olehku. Sinar mentari semakin meredup. Sebentar lagi senja senja menjelang. Tenggelam di balik Nusakambangan.
"Bagaimana, Dini ?" kini laki laki itu disampingku. Menatap.
Aku memberanikan diri mengangkat wajah, dan melihatnya. Mata itu, mata Naga. Mata yang membuatku terpana. 
Perlahan aku mengangguk. Dia tahu, bahwa aku mencintainya. Terlalu dalam. Terlalu cinta. Selalu cinta. 

*759 kata. Panjang amat yaks

Kamis, 26 Januari 2012

Mimpi

Wajah itu tak lagi asing bagiku. Meski dia kini tidak menggunakan nama lengkapnya. Hanya sepotong nama panggilan. Nama yang tenar dan menjual. Wajah milik seorang laki laki yang tak pernah pergi dari benakku.Meski jarak dan waktu telah memisahkan. Meski keadaan telah memaksakan.
Lelaki itu kini berdiri di sana. Di hadapanku. Di atas panggung. Menyampaikan motivasi. Berbagi semangat. Kadang dia berjalan berkeliling, menyapa satu per satu peserta, dan bertanya apa pendapat mereka.
Hatiku berdebar tak menentu. Mungkinkah dia masih mengenaliku ? 15 tahun bukan waktu yang pendek. Untuk melupakan sebagian sejarah hidupku. (dan hidupnya kah ?) Untuk menghilangkan segala ingatan, tentang pertemuan, perpisahan, canda, air mata.
Ah, dia sudah banyak berubah. Dia sudah menggenggam hampir semua impiannya yang dulu pernah dibaginya denganku. Ah entah, mungkin dia kini juga telah membangun mimpi mimpi baru. Sedang aku masih begini begini saja.
Dia berjalan ke arahku. Kutenangkan hatiku. Oh Tuhan, kini dia benar benar ada di hadapanku. Debarku makin tak terkendali. Terasa keringat dingin menjalari tengkuk. Kugenggam tanganku sendiri menahan grogi.
Dia membungkuk. Dekat
Aku menunduk. Dagu dan dadaku lekat.
"Apa kabar ?" bisiknya
"Bbbaik... " jawabku gemetar. "Mamah masih di rumah Kalibaru?" (pertanyaan bodoh)
"Mamah sudah tiada, Kalibaru kini sudah berbeda"
Aku terhenyak !! Bukan karena kata-katanya. Tapi karena ini mimpi belaka. Meski tadi itu tampak nyata dan benar adanya.