Hai,
apa kabarmu kini ? lama nian kita lost contact ya...
aku tak tahu lagi di mana harus mencarimu
pernah kita melalui hari - hari yang dipenuhi dengan obrolan, lewat gtalk atau ym
tapi sekarang sepertinya kamu enggak pernah OL
apakah di duniamu tidak ada internet ?
Hai,
pemilik mata teduh ?
apakah tatapmu masih seperti yang dulu ?
senyum dan kata lembutmu menghalau semua rindu
seperti hujan sehari yang membuat orang lupa kemarau
Hai kamu,
yang pernah bilang bahwa rasa tak perlu diumbar dengan kata-kata
karena itu akan mengurangi makna
Ah.. aku tak setuju itu. Karena aku termasuk yang meyakini bahwa rasa itu harus diungkapkan
Tapi ternyata kau dan aku tetap menjalani hari - hari dalam kebersamaan
aku tak pernah 'tega' menyampaikan isi hatiku
dan akupun tak pernah mendengar kau mengungkapkan rasamu
baiklah... kita nikmati saja kesempatan ini.
Titi adalah
- Titi Esti
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- istri, ibu dari 5 anak, full time worker, menghibur diri dengan berkreasi dan berpuisi
Tampilkan postingan dengan label cerita geje. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita geje. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Februari 2014
Selasa, 08 Januari 2013
Misteri Di Balik Layar (2-Habis)
![]() |
| foto diculik dari Pak Dhe Cholik |
Ringkasan cerita bagian pertama
Pemeran Cakil jatuh bersimbah darah di atas panggung. Inspektur Suzana yang kebetulan menonton pagelaran, menyatakan pemeran Cakil tewas terbunuh
Para nayaga yang diterjang rasa penasaran juga berebut naik ke panggung. Beberapa penonton dari kalangan laki laki mengikuti. Mendadak sontak panggung pun dipenuhi orang.
Inspekstur Suzana yang menyadari keadaan segera mengeluarkan instruksi
"Semua yang tidak berkepentingan silakan turun dari panggung. Seluruh pemain dan petugas pembantu di belakang panggung harus tetap di tempat."
Mendengar suara inspektur cantik yang merdu namun berwibawa itu, satu persatu kerumunan orang orang itu pun meninggalkan panggung. Menyelinap dari balik layar yang masih tetap tertutup. Diantara mereka ada yang berbisik bisik menganalisa kejadian tersebut.
"Wah, pasti mbak Rikmo sengaja membunuh Lik Mudhoiso, lha wong Lik Mudho sekarang sudah akrab sama gadis muda"
"Gadis muda yang mana to ?"
"Itu lho, yang lulusan institut kesenian dari ibu kota itu lho..."
Si lawan bicara hanya manggut manggut menerima analisa tersebut.
"Kapok, Mudhoiso mati di atas panggung, jadi uwong kok egois, mau menangnya sendiri. Kita ini minta kenaikan honor nayaga aja ndak dikasih-kasih. Nanti kalau Mudhoiso diganti sama Pak Sigit, besar kemungkinan nasib kita bakal berubah" salah satu nayaga malah menyukuri kematian Mudhoiso.
Di atas panggung, Inspektur Suzana menatap seluruh personil Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang saat itu juga, tidak pakai lama, sudah berdiri mengerumuni Mudhoiso. Mereka yang merasa ada permasalahan ataupun perselisihan dengan Mudhoiso langsung menundukkan pandangan, tidak berani menatap mata Inspektur Suzana. Khawatir menjadi tertuduh, apalagi tersangka. Amit amit.
Karena lampu panggung masih settingan suasana perang dan sedikit remang remang, maka Inspektur Suzana memerintahkan agar lampu utama dinyalakan.
Salah seorangpun bergerak menyalakan lampu.
Byaarr...
Panggung terang benderang.
Hoek... hoek... Gubrak. Tiba tiba Mudhoiso bangkit duduk kembali dan muntah di atas panggung. Selesai muntah diapun tergeletak lagi.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... jeritan keras pun lagi lagi terdengar dari balik layar. Semua yang tersisa di atas panggung menjerit dan melompat mundur. Kecuali Inspektur Suzana. Dialah satu satunya orang yang berani mendekati Mudhoiso. Kalau tadi yang diraba denyut nadi tangan kiri, karena sekarang posisinya lebih dekat ke sisi badan sebelah kanan, maka Inspektur Suzana meraba nadi tangan kanan Mudhoiso.
Terlihat Inspektur Suzana diam dan konsentrasi.
Semua yang menyaksikan adegan itu dicekam ketegangan, menanti apa kejadian berikutnya.
"Kurang ajar. Sontoloyo !" Tiba tiba Inspektur Suzana bangkit seraya memukulkan sampur pemeran cakil itu ke arah muka brewok dengan gigi dan taring nan tajam itu.
"Mudhoiso, tangiyo ! ***cuk, jebul aku kecelik. Ngelmu di mana sampeyan. Sampai sampai aku hampir tertipu begini !" Saking keselnya, inpektur cantik itu terpaksa mengeluarkan kata kata umpatan.
Dengan lemah dan sambil menutup mulutnya karena masih mual, Mudhoiso pun berusaha duduk. Semua terpaku di tempat masing masing karena masih tegang, hanya Rikmo Sadhepo pemeran panengahing Pendhowo yang berani membantu Mudhoiso duduk.
"Mbak Rikmo, tolong jelaskan asal muasal keributan malam ini. !" suara Inspektur terdengar melembut, meskipun nafasnya masih terlihat kembang kempis menahan kesal.
"Maaf Inpektur, sebelumnya saya minta maaf, saya dan lik Mudhoiso tidak bermaksud menipu Inspektur. Kami tidak menyangka kalau Inspektur bakal menonton wayang orang malam ini.
Sebenarnya, Lik Mudhoiso sedang mendalami teater dan akting. Pengajarnya adalah dek Diana yang baru lulus dari institut kesenian. Menurut dek Diana, hakitkat akting itu adalah meyakinkan, agar semua penonton menganggap kejadian yang disuguhkan di atas panggung itu terjadi beneran.
Lik Mudhoiso cerita ke saya, katanya malam ini adalah saatnya diuji sama dek Diana. Apakah pelajaran yang disampaikan sudah dimengerti benar benar dan siap dipraktekkan di atas panggung.
Untuk mendukung akting Lik Mudhoiso, saya iseng iseng mencari di internet, cara membuat darah buatan supaya mirip benar dengan darah asli.
Yaitu campuran dari sirup jagung, air, sedikit tepung dan dan pewarna. Karena kemben buto Cakil tebal, maka kami tidak dapat menyimpan darah palsu itu di perut Cakil. Sebagai gantinya, saya menyimpan di bahu, dibawah selempang selendang buto Cakil. Makanya pas saya menusukkan keris luk 9 ke arah perut Cakil, Cakilnya kelihatan kakehan polah sehingga kerisnya menusuk leher. Padahal itu disengaja oleh Lik Mudhoiso supaya darah palsu yang di bahu tertusuk dan berceceran."
Terus kenapa tadi waktu saya periksa nadinya tidak ada denyut ?
Rikmo Sadhepo pun bingung dan menatap Mudhoiso.
"Itu karena saya rajin latihan yoga sejak muda dan sudah menguasai kundalini. Sehingga saya bisa menahan denyut nadi tangan kiri. Tapi tidak dapat menahan denyut nadi tangan kanan, maupun detak jantung. Karena suasana panggung remang remang dan semua sudah menganggap saya terbunuh, maka tidak ada yang memperhatikan saya tetap bernafas perlahan lahan. Makanya pas Inspektur memeriksa tangan kanan saya setelah lampu menyala tadi, denyut nadinya masih ada." Suara Lik Mudhoiso perlahan.
Terus ngapain pak Lik pake muntah di atas panggung segala ?" berikutnya terdengar suara cempreng nan galak milik Inem si tukang sapu panggung. Semuapun menoleh ke arah Inem.
"Sori Nem, itu tidak sengaja. Efek dari menahan nadi adalah pusing dan mual."
Inspektur Suzana menyadari bahwa ternyata, pembunuhan atau tepatnya peristiwa yang dianggap pembunuhan itu tidak ada. Alias hoax. Maka diapun membubarkan kerumunan orang orang di atas panggung.
"Wis wis wis, bubar bubar bubar. Sudah jelas semua permasalahannya. "
Plok plok plok, tepuk tangan yang cetar membahana tiba tiba terdengar dari pinggir panggung. Tepuk tangan itu berasal dari tangan mba Diana pelatih akting dan Pak Sigit, wakil ketua rombongan Wayang Orang BlogCamp Budhoyo. Yang lain pun segera tersadar. Semua pun ikut bertepuk tangan, meriah dan tambah meriah. Keberhasilan Mudhoiso 'mengecoh' Inspektur Suzana berarti keberhasilan grup wayang orang untuk berpentas di atas panggung dengan akting meyakinkan. Meskipun mereka hanya grup pinggiran yang pindah dari satu tobong ke tobong lain, karena sangat mencintai budaya sendiri merekapun berusaha totalitas dalam berseni.
-Tamat-
Sumber bacaan
Cara menghentikan nadi
Cara membuat darah palsu
Jumat, 14 September 2012
Jangan Panggil Aku Cinta
Sambungan yang kemaren
Ups.... Wita kaget sendiri ketika melihat siapa yang ada di depan pintu kostnya.
"Milih mana, aku maksa masuk kamarmu, atau nemenin aku ngobrol di ruang tamu ?"
Wita menarik nafas panjang.
Tanpa menjawab dia berjalan ke ruang tamu kostnya.
"Ada apa Titiyang ke sini ?"
"Cinta, dengarkan. Titiyang akan kasih penjelasan"
"Nggak perlu. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan ini bukan yang pertama kali"
"Ta, kamu hanya berprasangka. Tak ada apapun antara aku dengan siapa lah yang engkau tuduhkan itu"
"Nggak ada apa apa ? Jadi ngapain mention mention, paging paging, colek colek, kalau nggak ada apa apa ? Ngapain juga Titiyang bersedia membalas semua itu ? Bersedia mendengar semua keluhan keluhannya ? Bersedia memberikan penghiburan ? Sesuatu yang tidak pernah Titiyang berikan padaku"
"Itu karena Titiyang percaya, Cinta orang yang mandiri dan tegar"
"Bohong semua itu ! Hanya alasanmu saja"
"Cinta.... percalah padaku. Hati ini hanya untukmu. Itu tuntutan pekerjaan, kalau aku harus menemani klien dan meng-entertaint mereka"
"Sudah, jangan panggil lagi aku cinta. Namaku Juwita. Panggil saja Wita. Silakan pulang, dan aku akan masuk kamarku"
Wita berjalan tegak meninggalkan Bujana sendirian di ruang kost itu.
ketika ku lihat kau bersama dia
tak ada lagi hasrat dalam hidupku
kepada dirimu yang dulu tercinta
tak ada lagi kenangan, takkan lagi harapan
Ups.... Wita kaget sendiri ketika melihat siapa yang ada di depan pintu kostnya.
"Milih mana, aku maksa masuk kamarmu, atau nemenin aku ngobrol di ruang tamu ?"
Wita menarik nafas panjang.
Tanpa menjawab dia berjalan ke ruang tamu kostnya.
"Ada apa Titiyang ke sini ?"
"Cinta, dengarkan. Titiyang akan kasih penjelasan"
"Nggak perlu. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan ini bukan yang pertama kali"
"Ta, kamu hanya berprasangka. Tak ada apapun antara aku dengan siapa lah yang engkau tuduhkan itu"
"Nggak ada apa apa ? Jadi ngapain mention mention, paging paging, colek colek, kalau nggak ada apa apa ? Ngapain juga Titiyang bersedia membalas semua itu ? Bersedia mendengar semua keluhan keluhannya ? Bersedia memberikan penghiburan ? Sesuatu yang tidak pernah Titiyang berikan padaku"
"Itu karena Titiyang percaya, Cinta orang yang mandiri dan tegar"
"Bohong semua itu ! Hanya alasanmu saja"
"Cinta.... percalah padaku. Hati ini hanya untukmu. Itu tuntutan pekerjaan, kalau aku harus menemani klien dan meng-entertaint mereka"
"Sudah, jangan panggil lagi aku cinta. Namaku Juwita. Panggil saja Wita. Silakan pulang, dan aku akan masuk kamarku"
Wita berjalan tegak meninggalkan Bujana sendirian di ruang kost itu.
ketika ku lihat kau bersama dia
tak ada penyesalan dalam hidupku
dan apa yang ku rasakan saat ini
seperti dahulu ku tak mengenalmu
tak ada penyesalan dalam hidupku
dan apa yang ku rasakan saat ini
seperti dahulu ku tak mengenalmu
ketika ku lihat kau bersama dia
tak ada lagi hasrat dalam hidupku
kepada dirimu yang dulu tercinta
tak ada lagi kenangan, takkan lagi harapan
-Citra Skolastika-
Rabu, 13 Juni 2012
Pagi Kuning Keemasan
bib bib
Telepon genggamku mengeluarkan suara pelan.
Segera kusambar, karena aku sudah menunggunya sejak tadi.
"Ya Anto, gimana ? kamu udah berubah pikiran ?" sergahku to the point.
"Nggak Tik, maaf, besok aku nggak bisa datang"
"Jadi udah mantap nih, gak bakal datang ? Ya, terserah kamu aja. Aku nggak bisa maksa."
"Jangan ngambek gitu dong, Tik"
"Siapa yang ngambek ? Biasa aja kali"
"Nada suaramu Nek.. kita bukan sehari dua kenal"
"Ya udin lah Kek. Terserah kamu. Asal kamu inget aja. Kita bikin janji ini duluan sebelum kamu janji sama Nina"
"Maaf ya Tik. Bapak nugasin aku nemenin Nina keliling Belitong besok"
"Iya. Kamu nggak perlu ngulang apa yang udah kamu jelasin lewat SMS. Emangnya aku nggak tahu siapa Nina"
"Jangan bawa bawa masa lalu dong.."
"Ah sudahlah. Yang kecewa bukan cuma aku. Teman teman juga bakal kecewa. Acara ini sudah kita rencanakan sejak lama. Kita sudah investasi buat survey dan mempersiapkan segalanya. Nggak lucu aja, acaranya ada kok korlapnya nggak ada. Kamu punya waktu semalam Anto, untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. bye Anto !" kututup telepon. Aku tak peduli lagi dia miskol berapa kali.
Ah, pulau Lengkuas sudah terbayang di depan mataku. Meski kecil, pulau itu menyimpan sejuta keindahan. Pasir putih, air laut nan jernih, pantai nan landai, makin indah dengan batu batu granit yang bertebaran di sekelilingnya. Dan hobbyku duduk mematung di salah satunya sambil memandang laut lepas.
Mercusuar buatan Belanda yang sampai sekarang masih berdiri kokoh, menjadi saksi berapa banyak wisatawan yang sudah berkunjung ke sana.Terlebih lagi setelah Belitong menjadi terkenal karena Laskar Pelangi. Maka bertambah lagi wisatawan yang datang ke pulau Lengkuas.
Sayangnya, banyak wisatawan yang hanya datang untuk menyaksikan keindahan. Mereka tidak menyadari bahwa kedatangan mereka membawa tugas baru untuk pemerintah daerah. Air bersih dan sampah. Air bersih sangat terbatas di pulau Lengkuas karena harus didatangkan dari Tanjung Pandan. Tempat pembuangan sampah tidak tersedia, karena pulau itu sangatlah kecil, paling sekitar satu hektar. Sampah sampah plastik banyak berserakan dan ditinggalkan begitu saja.
Nah, besok itu rencananya aku dan teman teman dari Green Teen mau ngadain acara "pungut sampah" di pulau Lengkuas. Dan Anto koordinator lapangannya. Wajar kan, kalau aku sewot pas dia bilang nggak bakal ikut. Udah gitu, alasannya nganterin Nina. Sepupunya sekaligus mantan pacarnya. Huh !
Esoknya.
Kami berkumpul di tempat penyeberangan. Jujur aku berharap Anto datang. Meski aku sanggup menghandle tugasnya, tapi aku menjadi enggan karena alasan ketidakhadirannya itu.
"Gimana Tik ? Apakah kita akan menunggu Anto ? Pak Ramli koordinator perahu udah nanyain kapan mau nyebrang" Rudi koordinator transportasi bertanya.
Aku berpikir sejenak. Huh, kalau saja ada Anto....
"Kalau semua anggota sudah lengkap, kita berangkat aja sekarang" putusku.
"Teman teman, kita berangkat sekarang. Semua naik perahu masing masing. Siapkan kantong kantong sampah kalian. Bahkan kalau terapung dan dapat diraih dengan aman, kalian pun bisa memungutnya. Ayo siap " Rudi memberi aba aba setengah berteriak.
Perahu berjalan pelan. Aku menatap pulau Lengkuas di kejauhan. Pagi kuning keemasan di langitnya. Sayang di langit hatiku sedikit mendung. Ada sedikit desir tak enak membayangkan Anto keliling Belitong dengan Nina. Hmm.. perasaan apa ini. Aku memercik mercik air laut untuk mengusir bayangan Anto dan Nina sekaligus. Aku memercik air lebih keras. Kali aja bisa mengusir Nina kembali ke Jakarta.
Tiba tiba ..
"Tika...... Pak Ramli.... tunggu .... aku ikut kalian..." Aku menoleh ke belakang. Senyumku segera mengembang.
"Akhirnya........." serempak semua anggota Green Teen berteriak gembira.
Note : 500 kata kali ada yah
Rabu, 28 Maret 2012
Perempuan dan Lelaki Khayalan
"Mengapa kau datang ?" tanya si perempuan
"Karena kau undang." jawab lelaki
"Aku tidak mengundangmu !" seru si perempuan
"Air matamu memanggilku " lelaki menjawab tenang
Perempuan itu tak dapat mengelak. Disusutnya sisa butir bening di sudut mata.
"Kau selalu menemukanku. Kau selalu datang saat aku butuhkan. Hadirmu adalah penghiburan bagiku...." perempuan berkata, seperti pada dirinya sendiri
"Kau adalah bagian dari diriku yang hilang, kau adalah bagian dari sejarah hidupku yang kembali lagi ..." lelaki melanjutkan, mengerti. Seperti sebuah rangkaian mantra dua kalimat itu bersambungan
"Entahlah, setiap air mataku keluar, yang kuingat hanyalah dirimu" si perempuan tak mengerti
Bagi si perempuan, lelaki itu adalah teman yang tak tergantikan, teman yang selalu mengerti, bahkan tanpa perlu berkata kata sedikitpun. Cukuplah dia menangis, dan lelaki itu datang menenangkan. Maka seketika hilanglah beban di dada.
Bagi si lelaki, perempuan itu adalah tempat dia merasa ada, berarti dan dibutuhkan. Cukuplah dia datang ketika perempuan itu menangis, meski tanpa genggaman tangan, tanpa rengkuhan, Semua beban kehidupan bagai terbagikan
"Itulah sebabnya aku selalu ada untukmu" lelaki memberi jawaban, sekaligus alasan
"Kini pergilah. Cukup bagiku sekejap hadirmu"
"Aku akan pergi, jangan pernah ragukan keberadaanku untukmu"
"Tak kan pernah " Sahut perempuan.
Iya tahu, meski tak ada di sisinya, lelaki itu akan datang, kapanpun. Dimanapun, lelaki itu dapat menemukannya.
Seperti sore ini, di atas jembatan penyeberangan. Saat dia berdiri mematung, menatap hiruk pikuk jalanan. Menjelang senja. Karena laki laki itu, hanyalah teman khayalannya.
*235 kata
Minggu, 18 Maret 2012
Senja yang Indah
"Sudah sampai, Ma... " Dina membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. Aku turun dari mobil, Dina mencari tempat parkir yang cocok.
Lapangan parkir sudah hampir penuh. Tampak di kejauhan, para tamu sudah hampir memenuhi tenda. Sebagian bergerombol mengobrol, tertawa, mungkin mengenang masa muda.
Aku datang ke reuni ini atas ajakan Dina, putri semata wayangku. Bukan, bukan diajak, tepatnya dipaksa. Karena ini reuni akbar. Alumni 1980-2010. Bayangkan. Lintas generasi. Bahkan Dina pun sudah lulus dari sekolah yang sama denganku.
"Ayo Ma, kita ke sana" Dina menggamit lenganku.
Aku menurut saja dituntun. Pikiranku setengah iya setengah tidak. Andai saja bukan karena Tina yang sengaja datang dari Amerika, dan Lia yang sengaja datang dari Balikpapan, mungkin aku tidak akan memaksakan diri ke sini. Ke pantai ini. Untuk reuni..
Entahlah, kenapa panitia memilih pantai Teluk Penyu ini untuk lokasi reuni. Sore hari pula. Mungkin karena sekolah kami dekat dengan pantai, dan lokasi ini menjadi lokasi favorit untuk jalan jalan sore.Menanti senja tenggelam di balik Nusakambangan.
Sesekali bahkan guru olah raga pun sengaja mengadakan lomba lari di sini. Maka aku yakin, hampir semua anak sekolahku punya kenangan di sini.
Dina mengajakku berjalan menyusuri pantai, melewati tenda dan panggung. Di balik panggung, berjejer bungalow sepanjang pantai. Tempatnya agak tersisih. Dulu semasa aku sering melewatkan waktu di sini, belum ada bangunan ini.
"Asyik ya Ma.. duduk di sini. Coba ada cafe di dekat sini, enak kali ya minum segelas es kelapa muda" kata Dina.
Aku tergagap. Es kelapa muda, kesukaanku dan kesukaannya. Dia. Entah di mana.
Mataku menatap laut selatan yang demikian luas. Jantungku berdegup tak karuan,hanya karena mengingatnya.
"Mama... jangan melamun saja. Diajak ngobrol kok malah melamun" Aku tersenyum dan menoleh.
"Iya.. enggak lagi deh... Mama seneng aja melihat laut" sahutku berdalih.
"Ok deh Mam, Mama nikmati aja lautnya dulu ya.. aku pesan es kelapa muda dulu" kata Dina.
"Hm "! jawabku sambil kembali menatap laut.
"Hm "! jawabku sambil kembali menatap laut.
Sebentar kemudian, terdengar langkah mendekat dan dua gelas diletakkan di meja bungalow. Aih, cepat sekali Dina membeli es.
"Cepat amat Din ?" tanyaku, lagi lagi tanpa menoleh.
"Ini aku, Dini !" Hah ? Aku terkejut. Hanya seorang yang memanggilku Dini dari namaku Nurhandini. Semua teman temanku memanggil Nur. Kecuali dia, dia yang lenyap bagai di telan bumi.
"Dini, aku datang hendak minta maaf" katanya
"Minta maaf atas apa ?" tanyaku datar, mengatasi debar
"Din, aku minta maaf atas semua yang kulakukan kepadamu dan kepada Dina ." katanya lagi
"Kau tak perlu minta maaf padaku. Waktu itu aku melakukannya tanpa terpaksa. Dan kau tak perlu minta maaf pada Dina. Dia tidak mengenalmu." Ujarku, menegarkan diri.
"Dini... bukalah hatimu. Aku menyesali seluruh kesalahanku di masa lalu. Aku pergi saat itu, karena aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan. Aku membiarkanmu menanggung sendiri akibat perbuatan kita, aku membiarkanmu sendiri menyembunyikan kehamilanmu, aku membiarkanmu membesarkan dan mendidik Dina. Aku membiarkanmu ... Aku minta maaf untuk itu semua." Suara Naga semakin serak.
"Aku pergi, tapi dirimu selalu membayangi. Aku pergi, tapi aku hanya tahu satu tempat kembali. Engkau ! Dini... maafkan aku" Kini pria setengah baya itu tergugu di belakangku. Aku tak sanggup untuk memalingkan muka dan menatapnya. Terlalu dalam. Terlalu pedih. Terlalu cinta. Selalu cinta.
Dan aku tahu, tanpa dia minta pun aku sudah memberinya maaf sejak 30
tahun lalu di detik dia pergi dan tak dapat dihubungi. Itulah sebabnya
aku menjaga Dina. Membesarkan Dina, sepenuh cinta
"Aku sudah bertemu Dina. ketika sama sama mendaftar reuni. Melihatnya, seperti melihatmu 30 tahun lalu. Hanya bedanya, Dina berbalut jilbab rapi.Tapi aku dapat mengenali. Mata, hidung, senyum bahkan langkah kalian seperti tak ada beda. Kami berkenalan. Dan tahulah aku, bahwa dia adalah anak kita. "
"Dina anakku, dia tidak pernah mempunyai ayah " kataku tetap bertahan.
Terdengar laki laki itu menarik nafas dalam.
" Aku mengerti Din, dia tak mempunyai ayah. Bahkan dia tak perlu ayah. Tapi, maafkan aku Dini, ijinkan aku menebus kesalahanku, dan menghabiskan sisa umurku bersamamu." bujuknya lagi.Kini suaranya semakin tenang. Agaknya dia sudah semakin siap dengan apapun jawabanku.
"Dari cerita Dina, akupun tahu, bahwa kau tak pernah membuka pintu hatimu untuk orang lain. Kau menutup diri. Dini, ijinkan aku mengetuk hatimu sekali lagi.... Boleh ya Din ?"
Aku terdiam. Kepalaku tertunduk. Sekian waktu berlalu dalam diam. Hanya debur ombak yang semakin besar. Riuh rendah suara acara reuni seperti tak terdengar olehku. Sinar mentari semakin meredup. Sebentar lagi senja senja menjelang. Tenggelam di balik Nusakambangan.
"Bagaimana, Dini ?" kini laki laki itu disampingku. Menatap.
Aku memberanikan diri mengangkat wajah, dan melihatnya. Mata itu, mata Naga. Mata yang membuatku terpana.
Perlahan aku mengangguk. Dia tahu, bahwa aku mencintainya. Terlalu dalam. Terlalu cinta. Selalu cinta.
*759 kata. Panjang amat yaks
Senin, 06 Februari 2012
Suatu pagi di bawah rumpun bambu
"Ada apa ?" tanyamu, lembut
"Aku kangen, aku ingin bertemu"
"Besok kita bisa bertemu" jawabmu, tenang
"Aku ingin selalu bersamamu, berbagi, bercerita apa saja, walau hanya melihat diammu sekalipun "
"Kamu bisa bercerita apa saja, kapan saja, aku siap mendengarkanmu" katamu, menenangkanku.
Air mataku berjatuhan tiba tiba, aku sedih, karena aku tahu, apa yang dikatakannya tak semuanya nyata.
"Kamu bisa menghubungiku setiap waktu" lanjutmu. "De, kamu kenapa ? kok diam saja ? kamu menangis ?"
"Mas nggak mengerti perasaanku !" rajukku
Terdengar suara menarik nafas. Sedang kau di seberang sana sejenak terdiam.
"Kamu ingin Mas mengerti apa ?" tanyamu kemudian
"Aku tidak pernah merasakah hal seperti ini, sebelumnya. Aku tidak pernah merasanya senyaman ini berbagi perasaanku, khayalku, keinginanku, kepada orang selainmu, Mas"
suaraku serak, air mataku menderas.
"Kapan terakhir kamu merasakan hal seperti itu ?" tanyamu lagi
"Enggak pernah ! aku nggak pernah tahu bahwa aku bisa begini di hadapanmu"
"Apakah rasa itu hanya padaku ?" sambungmu, ragu
"Aku nggak tahu... aku nggak tahu rasa apa ini ? Aku mengharapmu selalu ada untukku.Aku merasakah bahwa Mas adalah bagian dari diriku yang hilang, entah kapan, suatu waktu. Dan kini aku menemukannya kembali. Aku berani menjadi diriku sendiri di hadapanmu" aku makin sesenggukan. Tapi ada kelegaan. Semua sudah kusampaikan.
"De, mungkin kamu keliru membaca rasamu. Mungkin juga Mas yang keliru. Mungkin waktu yang akan menjawab dan menjelaskan semua ini. Sekarang kamu sudah lebih tenang kan ?"
Aku mengangguk. Meski aku tahu kamu tak dapat melihatku.
"Iya Mas, terima kasih sudah mendengarku. Selalu" aku menjawab. Kuhapus sisa sisa lelehan air mata. Kuhirup udara banyak banyak. Aroma rumpun bambu, bercampur dengan tanah basah, menenangkan sukmaku.
"OK, kembalilah ke rumah.Ini masih pagi, mungkin anak anakmu butuh sarapan."
"Baik Mas !" aku tutup telepon genggamku, dan bersegera lari pulang
"Aku kangen, aku ingin bertemu"
"Besok kita bisa bertemu" jawabmu, tenang
"Aku ingin selalu bersamamu, berbagi, bercerita apa saja, walau hanya melihat diammu sekalipun "
"Kamu bisa bercerita apa saja, kapan saja, aku siap mendengarkanmu" katamu, menenangkanku.
Air mataku berjatuhan tiba tiba, aku sedih, karena aku tahu, apa yang dikatakannya tak semuanya nyata.
"Kamu bisa menghubungiku setiap waktu" lanjutmu. "De, kamu kenapa ? kok diam saja ? kamu menangis ?"
"Mas nggak mengerti perasaanku !" rajukku
Terdengar suara menarik nafas. Sedang kau di seberang sana sejenak terdiam.
"Kamu ingin Mas mengerti apa ?" tanyamu kemudian
"Aku tidak pernah merasakah hal seperti ini, sebelumnya. Aku tidak pernah merasanya senyaman ini berbagi perasaanku, khayalku, keinginanku, kepada orang selainmu, Mas"
suaraku serak, air mataku menderas.
"Kapan terakhir kamu merasakan hal seperti itu ?" tanyamu lagi
"Enggak pernah ! aku nggak pernah tahu bahwa aku bisa begini di hadapanmu"
"Apakah rasa itu hanya padaku ?" sambungmu, ragu
"Aku nggak tahu... aku nggak tahu rasa apa ini ? Aku mengharapmu selalu ada untukku.Aku merasakah bahwa Mas adalah bagian dari diriku yang hilang, entah kapan, suatu waktu. Dan kini aku menemukannya kembali. Aku berani menjadi diriku sendiri di hadapanmu" aku makin sesenggukan. Tapi ada kelegaan. Semua sudah kusampaikan.
"De, mungkin kamu keliru membaca rasamu. Mungkin juga Mas yang keliru. Mungkin waktu yang akan menjawab dan menjelaskan semua ini. Sekarang kamu sudah lebih tenang kan ?"
Aku mengangguk. Meski aku tahu kamu tak dapat melihatku.
"Iya Mas, terima kasih sudah mendengarku. Selalu" aku menjawab. Kuhapus sisa sisa lelehan air mata. Kuhirup udara banyak banyak. Aroma rumpun bambu, bercampur dengan tanah basah, menenangkan sukmaku.
"OK, kembalilah ke rumah.Ini masih pagi, mungkin anak anakmu butuh sarapan."
"Baik Mas !" aku tutup telepon genggamku, dan bersegera lari pulang
Langganan:
Postingan (Atom)

