Seorang Ibu baru saja pulang dari kantornya. Didapatinya anak anak sedang diam di kamar.
Insting seorang ibu - nya bekerja. Dia curiga. Ada apa ini ?
Setelah meletakkan tas kerjanya, dia pegang bagian belakang televisi di ruang tengah.
Terasa hangat.
Anak anak menonton televisi. Dan mereka segera lari ke kamar ketika mendengar Ibu membuka pagar.
"Siapa yang nonton tivi ?" Ibu berteriak
Anak anak diam. Tak satu pun menyahut
"Siapa yang nonton tivi ?"
Kembali hanya diam sebagai jawaban
"Semuanya keluar dari kamar !"
Satu persatu ketiga anak anak itu keluar dari kamar mereka masing masing.
"Siapa diantara kalian yang nonton tivi ?"
Si sulung menggeleng
Si Tengah juga menggeleng
Si Bungsu menggeleng dan menunduk, tidak berani menatap wajah Ibu yang tengah murka
"Kalau nggak ada yang ngaku, semuanya berdiri di pojok!"
Ketiga anak itu menurut.
Si Ibu masuk kamar dengan perasaan lelah yang bertambah lelah karena marah.
Si anak berbisik bisik di pojok ruangan
"Emangnya Ibu tahan gitu, sehari nggak nonton tivi?"
Titi adalah
- Titi Esti
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- istri, ibu dari 5 anak, full time worker, menghibur diri dengan berkreasi dan berpuisi
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 November 2010
Senin, 18 Oktober 2010
Ayah, Tolong Jelaskan !
Seusai pengambilan raport ujian tengah semester, seorang ayah terpaku menatap nilai-nilai yang tertera di raport anak anaknya.
si sulung, dua nilai tidak lulus standar kompetensi minimal
si tengah, ada 3 mata pelajaran yang salah satu nilai hariannya merah, dan belum ikut remidial.
ditambah 5 tugas harian yang belum dikumpulkan
si bungsu, ada dua mata pelajaran yang nilainya dua dan empat.
Si Ayah tertegun, malu, marah, kesal, merasa gagal
Setiba di rumah, dipanggilah ke tiga anak kesayangannya, kebanggaannya.
Dengan menahan geram, diletakkannya raport itu di depan anaknya masing masing.
Dipandanginya sang anak satu per satu.
Sang anak hanya menunduk, tak berani menatap wajah ayahnya.
"Tolong jelaskan pada Ayah, kenapa nilai kalian seperti ini. Tidak pernah kalian mendapatkan nilai seperti ini.Kenapa?"
Anak-anak semakin dalam menunduk.
"Kalian diberi kepercayaan, diijinkan bermain game, diberi waktu menonton televisi, di beri waktu online, diberi waktu membaca novel, dalam pikiran Ayah, kalian sudah selesai mengerjakan tugas tugas kalian di sekolah"
Si Tengah paling menunduk, karena hanya dia yang mendapat daftar tugas belum dikerjakan.
"Ayah, tidak mau ini terjadi lagi !"
Sang anak memberontak dalam hatinya, banyak hal yang ingin dikatakan, tapi tak satupun terucapkan.
("Coba, tolong jelaskan pada kami, kemana ayah ketika kami ingin bertanya. Pernahkah ayah menemani kami belajar, pernahkah ayah membantu kami memecahkan soal, pernahkah ayah bertanya apakah kami ada kesulitan, pernahkah ... pernahkah...?")
Andai ayahnya mendengar apa yang mereka pendam.
si sulung, dua nilai tidak lulus standar kompetensi minimal
si tengah, ada 3 mata pelajaran yang salah satu nilai hariannya merah, dan belum ikut remidial.
ditambah 5 tugas harian yang belum dikumpulkan
si bungsu, ada dua mata pelajaran yang nilainya dua dan empat.
Si Ayah tertegun, malu, marah, kesal, merasa gagal
Setiba di rumah, dipanggilah ke tiga anak kesayangannya, kebanggaannya.
Dengan menahan geram, diletakkannya raport itu di depan anaknya masing masing.
Dipandanginya sang anak satu per satu.
Sang anak hanya menunduk, tak berani menatap wajah ayahnya.
"Tolong jelaskan pada Ayah, kenapa nilai kalian seperti ini. Tidak pernah kalian mendapatkan nilai seperti ini.Kenapa?"
Anak-anak semakin dalam menunduk.
"Kalian diberi kepercayaan, diijinkan bermain game, diberi waktu menonton televisi, di beri waktu online, diberi waktu membaca novel, dalam pikiran Ayah, kalian sudah selesai mengerjakan tugas tugas kalian di sekolah"
Si Tengah paling menunduk, karena hanya dia yang mendapat daftar tugas belum dikerjakan.
"Ayah, tidak mau ini terjadi lagi !"
Sang anak memberontak dalam hatinya, banyak hal yang ingin dikatakan, tapi tak satupun terucapkan.
("Coba, tolong jelaskan pada kami, kemana ayah ketika kami ingin bertanya. Pernahkah ayah menemani kami belajar, pernahkah ayah membantu kami memecahkan soal, pernahkah ayah bertanya apakah kami ada kesulitan, pernahkah ... pernahkah...?")
Andai ayahnya mendengar apa yang mereka pendam.
Langganan:
Postingan (Atom)