Titi adalah

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
istri, ibu dari 5 anak, full time worker, menghibur diri dengan berkreasi dan berpuisi
Tampilkan postingan dengan label sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

Cintaku Berkhianat

-Namaku cinta, saat kita bersama
berbagi rasa, untuk selamanya. 

Wida bersyukur Tita mau meminjamkan  mobilnya. Kaca mobil itu dilapis sampai 80%. Siapapun yang duduk di dalamnya,  tidak akan terlihat dari luar. Dan Wida dapat leluasa memperhatikan halaman kantor itu.
Wida bersyukur juga, halaman restoran ini cukup penuh. Mobil Tita berbaur dengan kendaraan kendaraan lain. Petugas parkirnya pun tidak rese. Sehingga dia tidak ditanya tanya, kenapa sedari tadi tidak kunjung keluar dari mobilnya. Memang Wida tidak 100% berniat makan di restoran  tersebut. Kalaupun jadi masuk restoran, dia bisa cocok dengan menu apa saja yang ada di sana. Bagi Wida, tidak penting makan apa dan di mana. Karena dia suka semua jenis masakan. Yang lebih penting adalah makan dengan siapa, karena dia dapat menikmati suasananya.

Wida mencari cari telepon genggamnya di samping jok tempat dia duduk. Jari jemarinya kemudian  mengetik sebaris kalimat.
"Yang, makan yuk..."  dan menekan tanda kirim
Ditunggunya beberapa detik. Terkirim. Ditunggu lagi beberapa detik, tidak ada jawaban.
Matanya kembali mengarah ke halaman kantor di seberang restoran.

Sepasang laki laki yang dikenalnya dan perempuan yang diketahuinya dari jejaring sosial, terlihat keluar dari kantor tersebut.
Mata Wida memanas. Jantungnya tiba tiba berdegup lebih keras. Bibirnya gemetar.
Tapi tetap diperhatikannya kedua orang itu, yang berjalan beriringan. Bercanda dan tertawa tawa. Si perempuan terlihat menatap manja pada si laki laki. Tapi si laki laki tetap tenang, seperti yang Wida kenal.
Kemudian si lelaki terlihat mengeluarkan telepon genggam dari saku celana panjangnya. Dilihatnya benda itu sekilas. Mungkin membaca pesan. Si perempuan diam sejenak.

Wida menahan nafas. Kemudian bergumam pelam  " balas ... balas.. balas.. plisss "

Si laki laki tampak memasukkan telepon genggam ke saku kemeja. Mereka berdua berjalan ke arah jalan raya. Tampak akrab. Air mata Wida berjatuhan tanpa bisa di tahannya. Dia juga tak berusaha untuk mengusapnya. Biar saja, toh tak seorangpun melihatnya. Sudah biasa dia menangis tanpa suara seperti itu.

Wida mencari cari sebuah nama di telepon genggamnya.
Ditariknya nafas panjang lalu dia menelponnya Yayang. Pandangan matanya tetap tertuju pada sepasang manusia yang kini sudah berdiri di pinggir jalan raya. Hanya berjarak sekian meter dari tempatnya parkir.

Si laki laki mengambil lagi telepon genggam di saku kemeja. Si perempuan di sampingnya menengok kiri kanan. Seperti menunggu atau mencari sesuatu.
"Hai Cinta...." terdengar suara di telepon Wida.
"Hai Sayang, smsku udah masuk?" tanya Wida. Suaranya sudah kembali normal.
"Sudah "
"Kenapa Yayang gak balas ?"
"Maaf, aku masih menemani klien nih" si laki laki menatap ke arah restoran.
"Makan siang berdua yuk  ?"
"Waaah.... hari ini aku nggak bisa"
"Ya udah deh"
"Kamu nggak marah kan ?"
"Oke gak papa. Mungkin bukan jatah aku hari ini makan sama kamu"
Klik !
Wida menutup pembicaraan. Air matanya jatuh berderaian. Si laki laki tampak memasukkan telepon genggamnya ke saku kemeja.

Tak lama kemudian, si perempuan menghentikan taksi. Si laki laki membukakan pintu, si perempuan masuk diiringi si laki laki. Taksi pun melaju, dan membawa mereka berdua entah kemana. 

Hingga tiba saatnya aku pun melihat
cintaku yang khianat, cintaku berkhianat


-rumor . butiran debu-

Kamis, 14 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja

Sungai Musi & Jembatan Ampera, Palembang

Pernahkah kau mencinta dengan sangat ? Pernahkah kau merindu dengan sangat ? Jika jawabanmu iya, maka bersiaplah kau akan terluka dengan sangat. Kau akan terpuruk dengan sangat pula.

Cinta memang sesuatu yang membingungkan. Dia adalah sumber bahagia dan luka sekaligus, menurutku. Kalian boleh setuju boleh tidak. Karena idealnya cinta itu membahagiakan. Mengembangkan. Memberi kesempatan. Seperti cinta seorang Ibu yang memelihara anaknya sejak dalam kandungan hingga ia dewasa. Bahkan hingga anaknya mempunyai anak pula.

Tapi aku tak pernah menemui cinta yang seperti itu. Aku ragu. Apakah aku akan bertemu. Sejauh aku melangkah, tak ada sedikitpun tanda tanda.
Cinta telah membawaku melayang jauh. Melayang bukan dalam arti khayalan saja. Tetapi melayang yang sesungguhnya.

"Ikutlah Ning.. percayalah. Cinta kakak tidak akan tergoyahkan. Kakak akan yakinkan Ayah dan Ibu. Kalau beliau berdua melihatmu, pastilah mereka juga jatuh cinta padamu"

Cintalah yang membawaku terbang dari tanah Jawa ke bumi Sriwijaya ini. Meninggalkan bapak dan simbok di kampung. Bukannya mereka tak merestui hubunganku dengan Kak Amin. Tapi kemiskinanlah yang mengajari kami agar tak banyak berharap. Mengajari kami agar tak terlalu tinggi menggantung cita, bila jatuh akan sangat sakit rasanya.

Nyatanya, cinta telah membawaku pergi. Cinta telah membuatku berani. Cinta telah berlari dan memaksaku mengejarnya. Meski akhirnya cinta itu hanya meninggalkan luka. Menyisakan aku yang terlunta lunta di sini. Di sudut jembatan Ampera yang berdiri kokoh.

"Amin, Ayah  ndak setuju kamu kawin dengan perempuan Jawa itu !"

Air mataku meleleh. Suara itu terdengar keras dan pedas. Rasanya masih sangat menyakitkan. Meski sudah bertahun terlewatkan. Aku akan tetap di sini. Aku tak akan meninggalkan kota ini. Aku tak bisa beranjak dari sini.

"Ning, kakak akan membelamu di hadapan Ayah. Tekad kakak sudah bulat. Kita akan segera menikah setelah lebaran"

Aku tersenyum. Indah sekali kata katak kak Amin. Kala itu hari menjelang senja. Kami berjalan bersisian. Langit berwarna jingga. Berpadu dengan warna warni lampu led di sepanjang jembatan.

"Tidak Kak. Menurutlah kata Ayah dan Ibu. Kita tidak mungkin menikah tanpa restu. Bukankah cinta tak harus saling memiliki ?"
Aku menangis lagi.  Perih rasanya di hati.


"Kakak akan mencintaimu sampai mati. Tidak ada yang dapat memaksa kita berpisah. Meskipun itu Ayah. Hanya maut yang akan memisahkan kita, Ning"
Aku tersenyum lagi. Tanganku mengepal erat bagai mengenggam tangan kak Amin kala itu.

Kami berdua masih berdiri di sisi jembatan hingga larut malam. Tak bosan memandang riak air dan ketek yang sesekali melintas. Juga restoran apung yang terdapat di sisi sisi Musi. BKB tampak di kejauhan. Juga Gedong Ledeng yang kini menjadi kantor walikota. Indah. Semua indah. Bersama kak Amin semua indah.

Malam itu juga semua berubah. Motor yang kami tumpangi diseruduk truk dari belakang. Kak Amin berpulang membawa cintanya. Meninggalkanku sendiri di kota ini hanya tinggal sebelah kaki.

Ah... Bumi Sriwijaya. Ah, Palembang. Jembatan Ampera. Berulang setiap senja. Langit jingga jatuh di rambutku yang makin  kelabu. Bercampur antara hitam dan putih uban.
Aku tersenyum di sini. Aku menangis di sini. Di sisi jembatan Ampera. Entah sampai kapan. Mungkin sampai nanti tak kulihat senja lagi.

Serombongan anak anak melintas di dekatku. Sebentar mereka mengawasi. Kemudian berlari menghindar.

"Ada wong gilo, ada wong gilo"


Rabu, 28 Maret 2012

Perempuan dan Lelaki Khayalan

"Mengapa kau datang ?" tanya si perempuan
"Karena kau undang." jawab lelaki
"Aku tidak mengundangmu !" seru si perempuan
"Air matamu memanggilku " lelaki menjawab tenang
Perempuan itu tak dapat mengelak. Disusutnya sisa butir bening di sudut mata.
"Kau selalu menemukanku. Kau selalu datang saat aku butuhkan. Hadirmu adalah penghiburan bagiku...." perempuan berkata, seperti pada dirinya sendiri
"Kau adalah bagian dari diriku yang hilang, kau adalah bagian dari sejarah hidupku yang kembali lagi ..."  lelaki melanjutkan, mengerti. Seperti sebuah rangkaian mantra dua kalimat itu bersambungan
"Entahlah, setiap air mataku keluar, yang kuingat hanyalah dirimu" si perempuan tak mengerti
Bagi si perempuan, lelaki itu adalah teman yang tak tergantikan, teman yang selalu mengerti, bahkan tanpa perlu berkata kata sedikitpun. Cukuplah dia menangis, dan lelaki itu datang menenangkan. Maka seketika hilanglah beban di dada.
Bagi si lelaki, perempuan itu adalah tempat dia merasa ada, berarti dan dibutuhkan. Cukuplah dia datang ketika perempuan itu menangis, meski tanpa genggaman tangan, tanpa rengkuhan, Semua beban kehidupan bagai terbagikan
"Itulah sebabnya aku selalu ada untukmu" lelaki memberi jawaban, sekaligus alasan
"Kini pergilah. Cukup bagiku sekejap hadirmu"
"Aku akan pergi, jangan pernah ragukan keberadaanku untukmu"
"Tak kan pernah " Sahut perempuan.
Iya tahu, meski tak ada di sisinya, lelaki itu akan datang, kapanpun. Dimanapun, lelaki itu dapat menemukannya.
Seperti sore ini, di atas jembatan penyeberangan. Saat dia berdiri mematung, menatap hiruk pikuk jalanan. Menjelang senja. Karena laki laki itu, hanyalah teman khayalannya.

*235 kata