-Namaku cinta, saat kita bersama
berbagi rasa, untuk selamanya.
Wida bersyukur Tita mau meminjamkan mobilnya. Kaca mobil itu dilapis sampai 80%. Siapapun yang duduk di dalamnya, tidak akan terlihat dari luar. Dan Wida dapat leluasa memperhatikan halaman kantor itu.
Wida bersyukur juga, halaman restoran ini cukup penuh. Mobil Tita berbaur dengan kendaraan kendaraan lain. Petugas parkirnya pun tidak rese. Sehingga dia tidak ditanya tanya, kenapa sedari tadi tidak kunjung keluar dari mobilnya. Memang Wida tidak 100% berniat makan di restoran tersebut. Kalaupun jadi masuk restoran, dia bisa cocok dengan menu apa saja yang ada di sana. Bagi Wida, tidak penting makan apa dan di mana. Karena dia suka semua jenis masakan. Yang lebih penting adalah makan dengan siapa, karena dia dapat menikmati suasananya.
Wida mencari cari telepon genggamnya di samping jok tempat dia duduk. Jari jemarinya kemudian mengetik sebaris kalimat.
"Yang, makan yuk..." dan menekan tanda kirim
Ditunggunya beberapa detik. Terkirim. Ditunggu lagi beberapa detik, tidak ada jawaban.
Matanya kembali mengarah ke halaman kantor di seberang restoran.
Sepasang laki laki yang dikenalnya dan perempuan yang diketahuinya dari jejaring sosial, terlihat keluar dari kantor tersebut.
Mata Wida memanas. Jantungnya tiba tiba berdegup lebih keras. Bibirnya gemetar.
Tapi tetap diperhatikannya kedua orang itu, yang berjalan beriringan. Bercanda dan tertawa tawa. Si perempuan terlihat menatap manja pada si laki laki. Tapi si laki laki tetap tenang, seperti yang Wida kenal.
Kemudian si lelaki terlihat mengeluarkan telepon genggam dari saku celana panjangnya. Dilihatnya benda itu sekilas. Mungkin membaca pesan. Si perempuan diam sejenak.
Wida menahan nafas. Kemudian bergumam pelam " balas ... balas.. balas.. plisss "
Si laki laki tampak memasukkan telepon genggam ke saku kemeja. Mereka berdua berjalan ke arah jalan raya. Tampak akrab. Air mata Wida berjatuhan tanpa bisa di tahannya. Dia juga tak berusaha untuk mengusapnya. Biar saja, toh tak seorangpun melihatnya. Sudah biasa dia menangis tanpa suara seperti itu.
Wida mencari cari sebuah nama di telepon genggamnya.
Ditariknya nafas panjang lalu dia menelponnya Yayang. Pandangan matanya tetap tertuju pada sepasang manusia yang kini sudah berdiri di pinggir jalan raya. Hanya berjarak sekian meter dari tempatnya parkir.
Si laki laki mengambil lagi telepon genggam di saku kemeja. Si perempuan di sampingnya menengok kiri kanan. Seperti menunggu atau mencari sesuatu.
"Hai Cinta...." terdengar suara di telepon Wida.
"Hai Sayang, smsku udah masuk?" tanya Wida. Suaranya sudah kembali normal.
"Sudah "
"Kenapa Yayang gak balas ?"
"Maaf, aku masih menemani klien nih" si laki laki menatap ke arah restoran.
"Makan siang berdua yuk ?"
"Waaah.... hari ini aku nggak bisa"
"Ya udah deh"
"Kamu nggak marah kan ?"
"Oke gak papa. Mungkin bukan jatah aku hari ini makan sama kamu"
Klik !
Wida menutup pembicaraan. Air matanya jatuh berderaian. Si laki laki tampak memasukkan telepon genggamnya ke saku kemeja.
Tak lama kemudian, si perempuan menghentikan taksi. Si laki laki membukakan pintu, si perempuan masuk diiringi si laki laki. Taksi pun melaju, dan membawa mereka berdua entah kemana.
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
-rumor . butiran debu-
Titi adalah
- Titi Esti
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- istri, ibu dari 5 anak, full time worker, menghibur diri dengan berkreasi dan berpuisi
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 September 2012
Sabtu, 08 September 2012
Tentang Kita
bila kuingat, senyum manismu
takkan habis waktu melamun
Mas, detik rasanya berjalan lambat di sini. Mungkin sebenarnya dia mau menemaniku. Tapi aku malah jadi malas. (Mendingan juga ditemenin Mas ya..) Lebih baik dia berlari saja, biar waktu segera berlalu. Hari berganti. Malam datang, pagi menggantikan. Terus dan terus. Supaya hitungan waktu ini segera genap. Aku rindu, Mas. Rasanya tak sabar menanti saatnya pertemuan.
Aku ingat terus senyuman Mas, tatapan Mas. Semuanya masih membuatku berdebar debar. Dan aku yakin akan selalu demikian. Meski Mas dah jauh sekalipun, debarnya tetap sama. Apalagi kalau kuingat saat saat kita bersama. Tak pernah ada yang menggandeng tanganku dengan cara menyelusupkan jari jari sepertimu. Belum pernah ada yang merapikan jilbabku seraya menyembunyikan anak anak rambut yang mengintip. Belum pernah ada laki laki yang memelukku seraya mengusap usap punggung. Belum pernah ada yang memintaku memeluk erat saat memboncengku.
Oya Mas, permohonan pindah mengikuti suami sudah aku ajukan segera setelah cutiku habis kemaren. Untungnya berkas berkas Mas lengkap, jadi surat itu bisa segera diproses. Alhamdulillah, kepala kantor menjanjikan akan membantu. Dan benar, berkas surat permohonanku hari ini sudah diteruskan ke kantor pusat. (Kata kepala kantor sih, semoga bisa cepat, soalnya di saat orang orang nggak mau dipindah ke daerah terpencil, aku malah minta pindah ke daerah terpencil.) Mas tolong berdoa ya... biar prosesnya cepat. Normalnya tiga bulan. Tapi tiga bulan itu kan lammmmaaa... Masa' aku harus nunggu tiga bulan lagi baru bisa ketemu Mas, dan berkumpul dengan Mas, lalu kita menjadi keluarga. Plis, bantu doa ya..
Nah, Masku sayang, segini dulu kabar hari ini. Besok aku tulis surat lagi tanpa menunggu balasan darimu.
Peluk cium dari istrimu di sini. Jaga diri baik baik ya... calon ayah !
****
bila kuingat canda tawamu
takkan habis waktu berangan
De, Mas sudah sampai di rumah kita. Meski rumah ini rumah dinas, milik negara, tapi Mas eh kita yah kita, bakal menjadi penghuni pertama. Rumah dinas ini baru selesai dibangun. Ini akan jadi rumah pertama kita. Rumah cinta kita. Nggak papa kan, Mas baru bisa menyediakan rumah dinas untuk tempat berteduh keluarga kita ? Allah kan menjamin rejeki orang yang sudah menikah, Allah akan memampukan kalau mereka belum mampu. Suatu saat, insya Allah kita bakal punya rumah sendiri ya...Amiin.
Rumahnya kita ini kecil, dua kamar, dapur dan kamar mandi di luar, di belakang. Nanti kalau kamu sudah sampai di sini, kita buat pagar tinggi di halaman belakang. Biar kamu bisa berkebun tanpa harus berkerudung. Halaman depannya luas sekali, seluas lapangan bola. Karena memang itu lapangan bola untuk warga komplek. Hehe.. Di sini juga dekat pantai, nanti kita bisa lihat matahari terbit ataupun menikmati senja di pantai kapanpun Ade mau. Makanya cepat ngajuin pindahnya...
De, Mas pengennya di sini malam terus. Biar Mas tidur dan tak merasakan waktu, sehingga tiga bulan perkiraan proses pindahmu itu segera berakhir.
Ade sayang, belahan jiwa. Mas selalu berdoa, bahkan sejak detik pertama perpisahan kita. Semoga proses pindahmu cepat, sehingga kita bisa segera berkumpul sebagai sebuah keluarga. Mas akan menjagamu kini dan membahagiakanmu. Lalu nanti kita punya anak anak yang lucu, sehat, cerdas, dan tentu saja, sholeh. Maka lengkaplah surga kita di dunia ini. Amiin.
Cukup segini dulu kabar Mas hari ini. Besok kalau nggak keasyikan ngelamunin kamu, Mas nulis surat lagi.
*sama suami jangan cuma kasih peluk cium dooonggg...* Jaga diri baik baik ya, calon ibu !
*****
Bila kuingat senyum manismu
Takkan habis waktu melamun
Bila kuingat canda tawamu
Takkan habis waktu berangan
Ingin kumiliki hari selamanya
Berdua denganmu selamanya
Bukan hanya angan yang kelamaan
Bila kuingat janji manismu
Kutunggu sampai malam meninggalkanku
Semoga bukan angan yang kelamaan....
Takkan habis waktu melamun
Bila kuingat canda tawamu
Takkan habis waktu berangan
Ingin kumiliki hari selamanya
Berdua denganmu selamanya
Bukan hanya angan yang kelamaan
Bila kuingat janji manismu
Kutunggu sampai malam meninggalkanku
Semoga bukan angan yang kelamaan....
(Lingua - Bila Kuingat)
Senin, 18 Juni 2012
Biru, Jatuh Hati
Ombak laut selatan silih berganti menerpa batu di bawah kakiku. Menderu didorong angin dan akhirnya pecah. Kutatap langit yang berujung di garis cakrawala. Pulau Nusakambangan nun jauh di sisi kiri. Samar samar tertutup entah kabut entah awan.
Inilah tempat favoritku. Diujung dataran yang menjorok ke laut. Di atas tebing batu. Di bawah pepohonan. Sempurna. Tak seorangpun lalu lalang di sekitarku. Tak kan seorang pun membuyarkan lamunanku.
Setiap aku rindu, pasti aku akan kembali ke sini.
"Rindu ? Rindu aku ? Mas ngaco. Kayak nggak pernah ketemu aja. Baru lima menit lalu aku mention Mas. !" tawaku lepas kala itu.
Kemudian aku berlari menerjang ombak. Engkau pun berlari mengejar. Dan kita tertawa.
"Mas tau nggak ? Aku tuh udah menganggap Mas seperti kakakku sendiri. Aku bisa tertawa lepas, bisa curhat dengan bebas dan nyaman, karena Mas selalu ngertiin aku. Kalaupun aku sayang Mas, itu bukanlah rasa sayang antara perempuan terhadap laki laki. Catat ya, bukan sayangnya seorang perempuan terhadap seorang laki laki. Tetapi, rasa sayang itu lebih mendekati sayangnya seorang adik terhadap kakak. Apalagi aku memang nggak punya kakak. Jadi please deh, jangan rusak pertemanan kita ini dengan kata kata cinta dan sejenisnya" Aku serius.
"Mas juga begitu, pada mulanya. Tapi setelah bertahun tahun kita lalui bersama, mulai dulu kita main layang layang di lapangan bola, kemudian sama sama ikut karate di polres, kemudian kita pisah kota karena aku kuliah di Yogya dan kamu di Bandung, aku mulai merasakan ada yang berbeda. Entah kenapa, setiap aku mencoba mendekati teman perempuan untuk jadi kekasih, selalu kubandingkan dengan dirimu, dek"
Aku mendengus.
"Eits, stop ! Jangan mendramatisir. Tak ada manusia yang sempurna. Dan tak ada perempuan yang mau dibanding-bandingkan. Semua pasti punya kelebihan. Kali aja Mas belum serius mendekatinya. Percayalah, Mas hanya butuh waktu lebih banyak bersamanya."
"Sayangnya, mungkin tidak demikian. Setiap perempuan yang sudah jalan dengan Mas, pasti mereka akan cemburu padamu. Walaupun belum satupun yang pernah bertemu kamu. Setelah mereka melihat, segitu banyak foto foto kita di kamar kosku. Segitu banyak komen komen kamu di wall facebook-ku. Dan segitu sering kita saling tweet dan mention, siapapun bakal mengambil kesimpulan ada suatu hubungan antara kita."
"Aaaah.. itu sih, karena Mas nggak sungguh sungguh meyakinkan dia. Coba deh. Suatu saat nanti, pasti Mas bakalan ketemu dengan seseorang yang bisa ngertiin Mas apa adanya" sahutku ringan.
Kami pun melanjutkan bercengkerama di pantai ini. Duduk berlama lama memandang pantai. Membiarkan kaki dan pakaian kami basah disapu ombak.
Tapi itu udah dulu sekali. Ah tidak, baru setahun eh dua tahun. Lama juga ya.. Seperti apa mas Bagas tampak aslinya ? Dan itulah pertemuan terakhirku dengan Mas Bagas. Kami masih saling mention dan saling komen. Tapi tidak pernah lagi bertemu. Mas Bagas seperti menghindariku. Apa seperti ini ya, yang namanya rindu.
Dan kini, selembar undangan ada di tanganku.
Undangan, 18 Juni 2012
Bagas Asmarandana
dengan
Ratih Kusumastuti
Akhirnya Mas Bagas menemukan orang yang dapat mengerti dia seutuhnya. Mestinya aku hadir di sana. Menyaksikan Mas Bagasku menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Tetapi, kenapa setelah dua tahun tidak bertemu ? Kenapa dia tidak datang dulu padaku ? Mengenalkan mbak Ratih padaku ? Kenapa ada rasa asing dalam hatiku. Seperti rasa sakit, rasa kecewa atau apalah. Yang jelas aku tidak nyaman menghadapinya.
Ah, siapa kamu. Sehingga kamu punya ukuran mestinya mestinya dan kenapa kenapa tentang Mas Bagas. Sisi batinku yang lain mencoba menganulir cara berpikirku.
Tidak ternyata aku tidak cukup kuat untuk hadir di sana. Menyaksikan Mas Bagas dan mempelainya berbahagia di pelaminan. Maka aku memilih di sini. Di bibir pantai Pangandaran. Sendirian. Kutelungkupkan kepalaku ke atas lutut. Kubiarkan angin laut memainkan rambutku. Entah sampai berapa lama. Mungkin aku tertidur di sini.
"Dor !" Tiba tiba sebuah suara mengejutkanku. Hanya satu orang yang tahu tempat favoritku ini.
"Mas Bagas ? Bukannya....." Aku buru buru mengusap bekas air mata di pipiku.
"Hehehe... Maafkan Biru. Aku ngerjain kamu. Tidak ada pernikahan itu. Itu undangan main main yang kubuat sendiri. Sekarang aku bisnis percetakan. Aku hanya ingin menjajagi perasaanmu. Aku mau melihat apa reaksimu. Daaan......" kata Mas Bagas sambil membuka tangannya dan tersenyum jenaka.
"Mas Bagas jahaaaaaaaaaaaaaattt " aku berteriak dan lari ke pelukannya. Kupukul-pukul dadanya yang bidang.
Mas Bagas memelukku erat. Air mataku deras mengalir membasahi T-shirtnya.
"Biru, aku nggak akan memanggilmu "dek" lagi. Karena kamu bukan adikku" Mas Bagas berbisik di telingaku. Jarinya menjentik hidungku.
Aku masih menahan isak. Aku mengangguk dan makin menenggelamkan kepalaku ke dalam peluknya. Mas Bagas memang bukan kakakku. Dan aku telah jatuh hati padanya.
Sehangat Serabi Solo
![]() |
| Pasar Klewer, Solo |
Untuk mendapatkan serabi solo kalian tidak harus ke Solo.
Karena sekarang sudah banyak yang menjual serabi solo ke luar kota Solo.
Tidak juga harus mendatangiku di depan pasar Klewer ini, di Kedai Serabi Solo "Putri Solo"
Tapi, akan berbeda kalau kau mendapatkannya di tempat asal. Serabi Solo yang dibeli di kota Solo.
Sudah hampir sepuluh tahun aku dan suamiku membuka kedai serabi solo.
Alhamdulillah selalu laris manis. Apalagi di musim liburan seperti sekarang.
Kutatap suamiku yang sedang mengaduk aduk arang agar bara apinya rata.
Setiap gerakan tangannya bagai mengaduk aduk perasaanku yang entahlah, aku tak tahu apa ini namanya.
"Kenapa menatap Aa seperti itu, Neng ?" Pertanyaaan Aa mengagetkanku.
"Aa makin kasep kalau lagi kerja dan bersimbah peluh, jadi Neng makin suka ngeliatin Aa"
"Ah, Neng merayu. Pasti ada maunya nih..."
"Enggak lah A.... kan emang Neng sayang dan cinta sama Aa"
"Ish, sudah, nih, anterin serabi ke pembeli di meja 10 tuh. Ngeliatin kita dari tadi." Kata Aa sambil menyorongkan sepiring serabi pesanan.
Jangan heran aku memanggil di Aa. Memang Aa berasal dari Bandung. Aku yang asli Solo. Tapi jangan salah, dalam hal mengolah serabi, Aa lebih jago dari aku. Selain karena dia kuliah di bidang kuliner dia juga belajar langsung dari Bapak.
Aku duduk diam di sudut kedai. Kebetulan pembeli sudah mulai sepi.
Sehabis mencuci tangannya yang tercoreng arang dan terciprat abu di sana sini, Aa duduk di depanku.
Dia menarik kursi di seberang mejaku. Dipegangnya tanganku.
"Neng masih memikirkan soal reuni Aa ?"
Aku menunduk sambil membetulkan letak kerudungku.
"Nanti siapa yang membantu Neng di kedai kita selama Aa di Bandung ?" tanyaku berdalih
"Kan ada de Joko yang sudah menyanggupi. Aa yakin bukan karena itu. Neng khawatir Aa bakal CLBK ?"
Aku makin menunduk. Selama ini aku selalu mengikuti saja keputusan Aa. Aku selalu menerima apa pun yang dia katakan atau apapun yang dia lakukan.
Tapi, untuk yang satu ini rasanya agak sedikit berat.
Aku tahu siapa dan bagaimana teman teman kuliah Aa di tempat itu.
Aku juga tahu pergaulan macam apa diantara mereka. Dan aku tak mau, masa lalu kembali menarik Aa.
Aku menarik nafas. Kutatap mata Aa. Barangkali aku bisa melongok sedikit ke dalam hatinya. Apakah masih hanya diriku seorang dan tak ada lainnya.
"Yakinlah Neng, Aa akan menjaga diri selama di Bandung"
Hatiku memberontak. Menjaga diri bagaimana. Aku tahu Aa yang tidak pernah mau berkonflik. Sekecil apapun.
Misalnya saja, dia masih susah untuk menjaga diri tidak salaman dengan perempuan. Alasannya? Alasan ringan, menurutku. Malah dia selalu membalikkan pernyataan, "kamu enak, pake kerudung. Bisa menolak salaman." Huh !
Justru itulah, karena Aa nggak pake kerudung, dan teman temannya pasti banyak yang belum tahu Aa sudah berubah, aku nggak rela rasanya nanti tangan Aa ditarik tarik ke panggung diajak berjoged. Dipeluk peluk dan cipika cipiki. Memangnya aku nggak tahu apa ! Pertemanan seperti apa yang dulu dijalani Aa, toh kami berasal dari kampus yang sama. Hanya beda angkatan dan jurusan.
"Bicaralah, Neng. Kalau Neng nggak ridho Aa ikut reuni, Aa nggak akan berangkat"
"Kata - kata Aa seakan akan menimpakan segala resiko reuni padaku." kataku dingin.
"Bukannya begitu... maksud Aa... " kata kata Aa menggantung di udara.
Bagaimanapun aku menenangkan hatiku, tetap saja aku tidak berhasil. Bagaimanapun aku berusaha berpikiran positif, selalu saja hal negatif yang muncul. Terlalu berat. Sangat berat rasanya melepas Aa.
"Terserah Aa aja lah.. Hanya satu permintaan Neng. Tolong deh Aa renungkan, seandainya kali ini angkatan Neng yang ngadain reuni, dan kemudian Neng ikut. Terus Neng diperlakukan teman teman laki laki Neng jaman kuliah dulu seperti yang teman teman perempuan Aa memperlakukan Aa dahulu, Aa bakal ridho nggak, Neng berangkat reuni. Kalau Aa ridho, Neng juga akan berusaha ridho"
Kataku sambil beranjak meninggalkan Aa di meja. Akhirnya kusampaikan juga segala yang mengganjal perasaanku. Berat sekali. Karena selama sepuluh tahun menikah, belum pernah sekalipun aku membantah Aa atau tidak setuju dengan keputusan Aa.
Esoknya kutunggu de Joko datang dari rumah Bapak dan Ibu. Dia harus menjemputku untuk membawa bahan serabi ke kedai. Karena pagi ini Aa akan berangkat ke Bandung.
Aku duduk mematung di teras kontrakanku.
"Yuk kita berangkat Neng ..." Tiba tiba suamiku muncul dari dalam rumah.
"Aa nggak jadi ke Bandung ?"
"Setelah Aa pikir pikir, kayaknya Aa juga bakal nggak rela melepas Neng ke masa lalu. Ketemu dengan teman teman laki laki Neng yang belum menjaga batas batas pergaulan. Lagipula Neng, Aa akan ketemu mereka paling cepat kan setahun sekali. Ngapain Aa memberati mereka, dan menjaga perasaan mereka agar tidak kecewa karena Aa nggak datang ? Toh akan banyak orang nantinya. Sedangkan di rumah ini, hanya ada Neng seorang. Nggak akan ada pengganti di hati Neng kalau Aa pergi. Kita akan ketemu setiap hari. Kalau hari ini Aa melukai perasaan Neng, Aa pasti malu ketemu Neng besok hari. Dan Aa nggak tahu bagaimana lagi Aa mengobati perasaan Neng."
Aku peluk suamiku erat erat. Ada yang menghangat di sudut - sudut mataku. Tidak, tidak akan kuhapus. Akan kubiarkan Aa tahu.
"Itu keputusan Aa kan ? bukan keputusan Neng ya.." kataku merajuk
Aa mengangguk dan membalas pelukanku lebih erat.
Kehangatan menjalar di dadaku. Sehangat serabi solo dari kedai kami berdua.
Kamis, 14 Juni 2012
Jingga di Ujung Senja
| Sungai Musi & Jembatan Ampera, Palembang |
Pernahkah kau mencinta dengan sangat ? Pernahkah kau merindu dengan sangat ? Jika jawabanmu iya, maka bersiaplah kau akan terluka dengan sangat. Kau akan terpuruk dengan sangat pula.
Cinta memang sesuatu yang membingungkan. Dia adalah sumber bahagia dan luka sekaligus, menurutku. Kalian boleh setuju boleh tidak. Karena idealnya cinta itu membahagiakan. Mengembangkan. Memberi kesempatan. Seperti cinta seorang Ibu yang memelihara anaknya sejak dalam kandungan hingga ia dewasa. Bahkan hingga anaknya mempunyai anak pula.
Tapi aku tak pernah menemui cinta yang seperti itu. Aku ragu. Apakah aku akan bertemu. Sejauh aku melangkah, tak ada sedikitpun tanda tanda.
Cinta telah membawaku melayang jauh. Melayang bukan dalam arti khayalan saja. Tetapi melayang yang sesungguhnya.
"Ikutlah Ning.. percayalah. Cinta kakak tidak akan tergoyahkan. Kakak akan yakinkan Ayah dan Ibu. Kalau beliau berdua melihatmu, pastilah mereka juga jatuh cinta padamu"
Cintalah yang membawaku terbang dari tanah Jawa ke bumi Sriwijaya ini. Meninggalkan bapak dan simbok di kampung. Bukannya mereka tak merestui hubunganku dengan Kak Amin. Tapi kemiskinanlah yang mengajari kami agar tak banyak berharap. Mengajari kami agar tak terlalu tinggi menggantung cita, bila jatuh akan sangat sakit rasanya.
Nyatanya, cinta telah membawaku pergi. Cinta telah membuatku berani. Cinta telah berlari dan memaksaku mengejarnya. Meski akhirnya cinta itu hanya meninggalkan luka. Menyisakan aku yang terlunta lunta di sini. Di sudut jembatan Ampera yang berdiri kokoh.
"Amin, Ayah ndak setuju kamu kawin dengan perempuan Jawa itu !"
Air mataku meleleh. Suara itu terdengar keras dan pedas. Rasanya masih sangat menyakitkan. Meski sudah bertahun terlewatkan. Aku akan tetap di sini. Aku tak akan meninggalkan kota ini. Aku tak bisa beranjak dari sini.
"Ning, kakak akan membelamu di hadapan Ayah. Tekad kakak sudah bulat. Kita akan segera menikah setelah lebaran"
Aku tersenyum. Indah sekali kata katak kak Amin. Kala itu hari menjelang senja. Kami berjalan bersisian. Langit berwarna jingga. Berpadu dengan warna warni lampu led di sepanjang jembatan.
"Tidak Kak. Menurutlah kata Ayah dan Ibu. Kita tidak mungkin menikah tanpa restu. Bukankah cinta tak harus saling memiliki ?"
Aku menangis lagi. Perih rasanya di hati.
"Kakak akan mencintaimu sampai mati. Tidak ada yang dapat memaksa kita berpisah. Meskipun itu Ayah. Hanya maut yang akan memisahkan kita, Ning"
Aku tersenyum lagi. Tanganku mengepal erat bagai mengenggam tangan kak Amin kala itu.
Kami berdua masih berdiri di sisi jembatan hingga larut malam. Tak bosan memandang riak air dan ketek yang sesekali melintas. Juga restoran apung yang terdapat di sisi sisi Musi. BKB tampak di kejauhan. Juga Gedong Ledeng yang kini menjadi kantor walikota. Indah. Semua indah. Bersama kak Amin semua indah.
Malam itu juga semua berubah. Motor yang kami tumpangi diseruduk truk dari belakang. Kak Amin berpulang membawa cintanya. Meninggalkanku sendiri di kota ini hanya tinggal sebelah kaki.
Ah... Bumi Sriwijaya. Ah, Palembang. Jembatan Ampera. Berulang setiap senja. Langit jingga jatuh di rambutku yang makin kelabu. Bercampur antara hitam dan putih uban.
Aku tersenyum di sini. Aku menangis di sini. Di sisi jembatan Ampera. Entah sampai kapan. Mungkin sampai nanti tak kulihat senja lagi.
Serombongan anak anak melintas di dekatku. Sebentar mereka mengawasi. Kemudian berlari menghindar.
"Ada wong gilo, ada wong gilo"
Minggu, 18 Maret 2012
Senja yang Indah
"Sudah sampai, Ma... " Dina membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. Aku turun dari mobil, Dina mencari tempat parkir yang cocok.
Lapangan parkir sudah hampir penuh. Tampak di kejauhan, para tamu sudah hampir memenuhi tenda. Sebagian bergerombol mengobrol, tertawa, mungkin mengenang masa muda.
Aku datang ke reuni ini atas ajakan Dina, putri semata wayangku. Bukan, bukan diajak, tepatnya dipaksa. Karena ini reuni akbar. Alumni 1980-2010. Bayangkan. Lintas generasi. Bahkan Dina pun sudah lulus dari sekolah yang sama denganku.
"Ayo Ma, kita ke sana" Dina menggamit lenganku.
Aku menurut saja dituntun. Pikiranku setengah iya setengah tidak. Andai saja bukan karena Tina yang sengaja datang dari Amerika, dan Lia yang sengaja datang dari Balikpapan, mungkin aku tidak akan memaksakan diri ke sini. Ke pantai ini. Untuk reuni..
Entahlah, kenapa panitia memilih pantai Teluk Penyu ini untuk lokasi reuni. Sore hari pula. Mungkin karena sekolah kami dekat dengan pantai, dan lokasi ini menjadi lokasi favorit untuk jalan jalan sore.Menanti senja tenggelam di balik Nusakambangan.
Sesekali bahkan guru olah raga pun sengaja mengadakan lomba lari di sini. Maka aku yakin, hampir semua anak sekolahku punya kenangan di sini.
Dina mengajakku berjalan menyusuri pantai, melewati tenda dan panggung. Di balik panggung, berjejer bungalow sepanjang pantai. Tempatnya agak tersisih. Dulu semasa aku sering melewatkan waktu di sini, belum ada bangunan ini.
"Asyik ya Ma.. duduk di sini. Coba ada cafe di dekat sini, enak kali ya minum segelas es kelapa muda" kata Dina.
Aku tergagap. Es kelapa muda, kesukaanku dan kesukaannya. Dia. Entah di mana.
Mataku menatap laut selatan yang demikian luas. Jantungku berdegup tak karuan,hanya karena mengingatnya.
"Mama... jangan melamun saja. Diajak ngobrol kok malah melamun" Aku tersenyum dan menoleh.
"Iya.. enggak lagi deh... Mama seneng aja melihat laut" sahutku berdalih.
"Ok deh Mam, Mama nikmati aja lautnya dulu ya.. aku pesan es kelapa muda dulu" kata Dina.
"Hm "! jawabku sambil kembali menatap laut.
"Hm "! jawabku sambil kembali menatap laut.
Sebentar kemudian, terdengar langkah mendekat dan dua gelas diletakkan di meja bungalow. Aih, cepat sekali Dina membeli es.
"Cepat amat Din ?" tanyaku, lagi lagi tanpa menoleh.
"Ini aku, Dini !" Hah ? Aku terkejut. Hanya seorang yang memanggilku Dini dari namaku Nurhandini. Semua teman temanku memanggil Nur. Kecuali dia, dia yang lenyap bagai di telan bumi.
"Dini, aku datang hendak minta maaf" katanya
"Minta maaf atas apa ?" tanyaku datar, mengatasi debar
"Din, aku minta maaf atas semua yang kulakukan kepadamu dan kepada Dina ." katanya lagi
"Kau tak perlu minta maaf padaku. Waktu itu aku melakukannya tanpa terpaksa. Dan kau tak perlu minta maaf pada Dina. Dia tidak mengenalmu." Ujarku, menegarkan diri.
"Dini... bukalah hatimu. Aku menyesali seluruh kesalahanku di masa lalu. Aku pergi saat itu, karena aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan. Aku membiarkanmu menanggung sendiri akibat perbuatan kita, aku membiarkanmu sendiri menyembunyikan kehamilanmu, aku membiarkanmu membesarkan dan mendidik Dina. Aku membiarkanmu ... Aku minta maaf untuk itu semua." Suara Naga semakin serak.
"Aku pergi, tapi dirimu selalu membayangi. Aku pergi, tapi aku hanya tahu satu tempat kembali. Engkau ! Dini... maafkan aku" Kini pria setengah baya itu tergugu di belakangku. Aku tak sanggup untuk memalingkan muka dan menatapnya. Terlalu dalam. Terlalu pedih. Terlalu cinta. Selalu cinta.
Dan aku tahu, tanpa dia minta pun aku sudah memberinya maaf sejak 30
tahun lalu di detik dia pergi dan tak dapat dihubungi. Itulah sebabnya
aku menjaga Dina. Membesarkan Dina, sepenuh cinta
"Aku sudah bertemu Dina. ketika sama sama mendaftar reuni. Melihatnya, seperti melihatmu 30 tahun lalu. Hanya bedanya, Dina berbalut jilbab rapi.Tapi aku dapat mengenali. Mata, hidung, senyum bahkan langkah kalian seperti tak ada beda. Kami berkenalan. Dan tahulah aku, bahwa dia adalah anak kita. "
"Dina anakku, dia tidak pernah mempunyai ayah " kataku tetap bertahan.
Terdengar laki laki itu menarik nafas dalam.
" Aku mengerti Din, dia tak mempunyai ayah. Bahkan dia tak perlu ayah. Tapi, maafkan aku Dini, ijinkan aku menebus kesalahanku, dan menghabiskan sisa umurku bersamamu." bujuknya lagi.Kini suaranya semakin tenang. Agaknya dia sudah semakin siap dengan apapun jawabanku.
"Dari cerita Dina, akupun tahu, bahwa kau tak pernah membuka pintu hatimu untuk orang lain. Kau menutup diri. Dini, ijinkan aku mengetuk hatimu sekali lagi.... Boleh ya Din ?"
Aku terdiam. Kepalaku tertunduk. Sekian waktu berlalu dalam diam. Hanya debur ombak yang semakin besar. Riuh rendah suara acara reuni seperti tak terdengar olehku. Sinar mentari semakin meredup. Sebentar lagi senja senja menjelang. Tenggelam di balik Nusakambangan.
"Bagaimana, Dini ?" kini laki laki itu disampingku. Menatap.
Aku memberanikan diri mengangkat wajah, dan melihatnya. Mata itu, mata Naga. Mata yang membuatku terpana.
Perlahan aku mengangguk. Dia tahu, bahwa aku mencintainya. Terlalu dalam. Terlalu cinta. Selalu cinta.
*759 kata. Panjang amat yaks
Langganan:
Postingan (Atom)

